Selasa, 13 Mei 2014

BEBANTENAN




Upacara Yadnya (Yajna) disebutkan adalah suatu kewajiban yang patut dilaksanakan oleh umat manusia, yang dijelaskan dalam pelaksanaannya dibedakan atas tiga (3) tujuan yaitu :
  1. Keiklasan, 
  2. Harapan untuk memperoleh hasil
  3. Hanya bersifat bodoh yang tidak dilandasi dengan keyakinan dan kepercayaaan.
Seperti penjelasan berikut ini.
Menurut Bhagavad Gita, yadnya atau banten di bedakan menjadi tiga golongan yaitu:

             1.
Satwika yajna, yajna yang dilaksanakan dengan keiklasan tanpa mengharapkan hasilnya, dilaksanakan semata-mata sebagai suatu kewajiban yang patut dilaksanakan. Serta sesuai dengan sastranya.
Aphalakanksibhir yajno…vidhidrsto ta ijayate … yastavyam eve ti manah…samadhaya sa sattvikah
Artinya : … Yajna yang dihaturkan sesuai dengan sastranya. Oleh mereka yang tidak mengharapkan buahnya ( ganjaran ) dan teguh kepercayaannya. Bahwa memang sudah kewajibannya untuk beryajna. Adalah sattvika. Baik.

               2. Rajasika yajna yajna yang dipersembahkan dengan motivasi untuk memamerkan kemampuan serta terikat dengan keinginan untuk memperoleh buahnya.
Abhisamdhya tu phalam…dambhartam api cai va yat…ijyate bharatasrestha…tam yajnam viddhi rajas am
Artinya : … Akan tetapi dihaturkan dengan harapan akan buahnya atau hanya untuk memamerkan., ketahuilah Oh arjuna. Bahwa yajna itu adalah Rajasika, bersifat
rajas yang penuh bernafsu.

               3. Tamasika yajna yajna yang dilaksanakan secara sembarangan, tidak sesuai dengan ketentuan sastranya. Tidak ada makanan yang dibagi bagikan. Tidak ada
mantra, syair yang dinyanyikan. Dan tidak ada dana punia daksina yang diberikan, serta tidak dilandasi dengan keyakinan dan kepercayaaan.

Vidhihinam asrstannam… mantrahinam adaksinam… srddfavirahitam yajnam… tamasam paricaksate
Aritinya :… yajna yang tidak sesuai dengan petunjuk, dengan tidak ada makanan yang dibagi-bagikan, tidak ada mantra,. syair yang dinyanyikan, dan tidak ada dana punia daksina yang diberikan, tidak mengandung kepercayaan, mereka disebut yajna yang Tamasika. Bodoh.

Referensi : penggolongan yadnya tersebut di atas bersumber dari artikel tentang banten di halaman Hindu Bali pada Facebook  (
ref 1).

Dalam lontar Yajna Prakrti (
ref 2), banten memiliki tiga arti sebagai simbol ritual yang sacral. Dalam lontar yadnya prakerti tersebut banten disebutkan:
  • Sahananing Bebanten Pinaka Raganta Tuwi
  • Pinaka Warna Rupaning Ida Bhattara
  • Pinaka anda Bhuvana. 
Dalam lontar ini ada tiga hal yang dibahasakan dalam wujud lambang oleh banten yaitu :
  1. Pinaka Raganta Tuwi, banten itu merupakan perwujudan dari kita sebagai manusia. 
  2. Pinaka Warna Rupaning Ida Bethara", perwujudan dari manifestasi (prabhawa) Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.
  3. Pinaka Andha Bhuwana", refleksi dari wujud alam semesta atau Bhuwana Agung.
Ditambahkan oleh Ida pandhita Mpu Jaya Wiajayananda dalam dokumen tetandingan banten untuk  banten sesayut dalam forum jaringan Hindu Nusantara di Facebook (ref 3), di dalam suatu wujud bebanten dalam upakara terdiri dari tiga kelompok, yaitu;
  1. Kelompok Banten Pangresikan, Pabresihan atau penyucian, yang terdiri dari: Banten Bayakaon, Banten Durmangala, Banten Parayascitta, Pengulapan, Lis bale gadhing, Banten padudusan, Banten Dyuskamaligi.
  2. Banten ayaban atau persembahan, terdiri dari banten ayaban tumpeng lima, banten ayaban tumpeng pitu, banten ayaban tumpeng sya, banten ayaban tumpeng solas, banten ayaban tumpeng telulikur/udel kurenan, banten ayaban maulu Pergembal, Banten ayaban maulu Pregembal bebangkit, banten ayaban maulu pregembal bebangkit dan catur dan seterusnya.
  3. Kelompok banten sebagai pengharapan, tujuan yang ingin dicapai serta sebagai sthana / lingga dari Ista Dewata yang di puja pada upacara tersebut, Pengguaan banten Sesayut atau Tatebasan hendaknya disesuaikan dengan upacara yang di laksanakan.
Karena selain diri kita sendiri, alam semesta ini juga berada dalam pengaruh vibrasi energi kosmik yang bersifat tri guna, yaitu
  • sattvam, 
  • rajas, dan 
  • tamas 
Sehingga manusia patut melaksanakan upacara Panca Yadnya.
Dengan mengurangi penderitaan para mahluk dan menjaga keseimbangan alam semesta ini merupakan
yadnya rahasia yang memiliki tingkat yang paling tinggi, karena pengorbanan demi kebahagiaan mahluk lain adalah rahasia di balik semua kesadaran paripurna.

Selain diukur dari besar-kecilnya volume banten atau besar-kecilnya biaya yang dihabiskan, sebagaimana dikutip dalam "Memahami Banten", oleh Rumah
Dharma - Hindu Indonesia (ref4), ada beberapa faktor penting yang membuat banten bisa memancarkan Vibrasi Kesucian adalah memenuhi tiga persyaratan di bawah ini :
  1. Sumber bahan harus baik. Banten harus bersumber dari bahan atau uang yang baik, tidak dari hasil korupsi, mencuri, merampok, menipu, berhutang, menjual tanah warisan, dll. Banten yang bersumber dari bahan atau uang yang tidak baik, tidak nyambung dan sia-sia. Persembahan yang bersumber dari bahan atau uang seperti itu percuma, sebab vibrasi sattvam [jyoti atau cahaya] dari banten-nya hilang. Maka dari itu, penting sekali membuat banten yang sesuai dengan kemampuan kantong kita yang sewajarnya, agar tujuan yajna dapat tercapai.
  2. Proses Pembuatan. Ketika membuat banten, sebisa mungkin kita harus membuatnya dengan pikiran bersih, disertai ketulusan dan kesabaran. Kalau bisa dengan diam atau dengan menyanyi lagu-lagu kidung surgawi [atau boleh juga dengan lagu-lagu mantra ala modern], agar pikiran kita terpusat. Jangan membuat banten sambil bergosip atau omongan aneh-aneh lainnya. Kita bisa bandingkan dengan saat  banten disiapkan untuk upacara besar di Besakih. Tempat membuat banten disebut dengan pesucian yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang tidak berkepentingan. Ini erat kaitannya dengan proses pembuatan. Kalaupun banten-nya membeli, membelinya jangan disertai dengan keluhan-keluhan ini-itu. Sebab hal ini berpengaruh kepada vibrasi banten-nya.
  3. Proses menghantar, apapun yang terjadi ketika kita menghaturkan banten, jangan lupa dilaksanakan dengan sejuk, teduh dan penuh kesabaran. Kalau gara-gara mebanten kita bertengkar atau krodha dengan marah-marah, hal ini sangat mempengaruhi banten-nya. Jangan pernah sampai karena banten, yajna atau upakara kita jadi menyakiti hati orang lain.
Nilai - nilai yang terkandung dan pembagian dari pelaksanaan suatu yadnya seperti dijelaskan dalam kutipan sumber referensi MARGA YADNYA « santiawan's Blog dijelaskan sebagai berikut Didalam melakukan Yadnya terkandung nilai-nilai yaitu :
  • Nilai rasa tulus iklas dan suci tanpa pamrih.
  • Rasa bakti, memuja dan menghormati Tuhan, Dewa, Bhatara, Leluhur, orang tua, bangsa dan Negara dan lingkngan kita.
  • Didalam melaksanakanya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Yang disesuaikan dengan Tempat, Waktu dan keadaan.
  • Suatu ajaran dan Catur Weda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan yang suci dan kebenaran sejati dan abadi.
Dilihat dari pembagianya, yadnya dibagi menjadi 4 bagian yaitu:
  1. Menurut Tingkat pelaksanaanya
  2. Menurut jenisnya (Panca Yadnya)
  3. Menurut Waktu pelaksanaanya
  4. Menurut Cara Menjalankanya (Panca Marga Yadnya).
1.     Drewya Yadnya | kedamaian hidup bersama masyarakat, bangsa dan Negara ...
2.     Swadyaya Yadnya | terdorong oleh rasa kasih sayang yang begitu besar ....
3.     Yoga Yadnya | dapat merasakan bersatu denganNya ...
4.     Tapa Yadnya | jalan peneguh iman ....
5.     Jnana Yadnya | berintikan ilmu pengetahuan dan kesucian ..
Demikian dijelaskan banten sebagai sarana yadnya yang dikutip dari berbagai sumber referensi sehingga dalam tata cara pelaksanaan yadnya itu sebagaimana disebutkan hendaknya juga sesuai dengan yasa kirti menurut ketentuan dalam sastranya dengan demikian unsur utama pelaksana yadnya, yaitu pendeta (sulinggih) yang akan memuja, tukang banten serta orang yang melaksanakan yadnya itu hendaknya seiring sejalan, tidak saling bertentangan.
Dan jika seandainya seandainya upacara yadnya itu dapat lebih dihemat sedikit dan hasil penghematan itu diwujudkan dengan membentuk perpustakaan pura, desa atau banjar yang dalam brahma yadnya disebutkan, tentu hal ini akan sangat utama sesuai dengan ketentuan sastra agama untuk menopang hidup manusia mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik.

BANTEN SEBAGAI KONSEP HIDUP




           BANTEN merupakan visualisasi dari ajaran tattwa dan susila Hindu yang memiliki tujuan mengarahkan, menuntun manusia guna tumbuhnya sifat-sifat yang mulia dalam diri. Oleh sebab itu apa yang ada dibalik banten itu ternyata sangat kaya akan konsep hidup yang bersifat universal, yang wajib diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari misalnya: Banten Peras, Banten Pengambyean, Sesayut, Dapetan dan lain-lain. Banten kalau dirujuk dari sumber sastranya merupakan perwujudan dari diri sendiri, perwujudan dari alam semesta dan juga merupakan perwujudan dari Hyang widhi. Banten kalau mewujudkan diri sendiri bisa kita pahami melalui pembuatan berbagai jenis banten tersebut, jika kita selaku umat manusia yang memiliki swadharma tertentu misalkan menjadi seorang petani maka alat perlengkapan petanilah yang kita bawa, termasuk pakaian, teori kerja, etika petani yang kita lakukan. Demikian pula jikalau kita berswadharma sebagai pedagang maka perlengkapan perdagangan yang kita bawa, pakaianyapun ala pedagang dan etikanyapun selayaknya seorang pedagang, demikian pula dengan swadharma yang lainya tentu akan menyesuaikan  kerja/kriya dengan swadhamanya masing-masing. maka dari itu berbagai jenis bebantenan terdapat di Bali sesuai dengan hari perayaannya. misalnya pada hari bhuda wage kelawu banten sesayut Bagia Setatasai mesti dibuat, selainnya menyesuaikan dengan keperluan dari keyakinan masing masing, boleh soda, pras, pejati dan lain-lain. Semua nanti merujuk pada sastra dalam lontar Sundarigama, sehingga dalam pelaksanaan yadnya tidak menoton hanya pada banten sorohan saja. Banten sesayut/tebasan merupakan wujud permohonan kita kehadapan Hyang Widhi agar beliu berkenan menganugrahi sesuai dengan wujud sesayut tersebut, banten Pras merupakan lambang perjuangan hidup dan doa untuk mencapai kesuksesan (Prasiddha) dalam kehidupan ini. Sebagai manusia normal kesuksesan dalam hidup merupakan dambaan setiap orang. Lalu apa yang harus dilakukan dalam meraih sukses tersebut. Dalam Banten Pras kesuksesan itu digambarkan dengan jelas sekali dinyatakan : " Pras Ngaranika Prasiddha Tri Guna Sakti ", artinya Pras namanya adalah sukses (Prasiddha) dengan kuatnya Tri Guna. Tri Guna itu adalah Sattwam, Rajas dan Tamas. Apabila ketiga Guna ini berada pada struktur dan komposisi yang idial, maka ia akan menjadi kekuatan luar biasa untuk mengantarkan seseorang menuju pada kesuksesan hidup. Struktur dan komposisi idial yang dimaksud adalah apabila guna Sattwam menguasai guna Rajas dan guna Tamas. Dalam Banten Pras ketiga guna ini disimbulkan dengan benang, uang dan beras. Benang sebagai lambang Sattwam, Uang sebagai lambang Rajas, dan Beras sebagai lambang Tamas. Banten Penyeneng melambangkan konsep hidup yang berkeseimbangan, dinamis dan produktif. Hidup yang seimbang mengandung suatu arti bahwa tujuan hidup ini harus diselaraskan antara kebutuhan jasmani (material) dengan kebutuhan rokhani, dinamis mengandung arti bahwa dalam hidup ini manusia diwajibkan untuk tidak henti-hentinya mengejar kemajuan dan produktif artinya senantiasa berkarya atau mencipta yang patut diciptakan, memelihara yang patut di pelihara dan meniadakan sesuatu yang patut ditiadakan. Visualisasi dari konsep hidup yang tiga ini diwujudkan dengan bentuk sampian yang beruang tiga. Dalam usaha membangun konsep hidup ini maka manusia hendaknya memiliki pandangan yang benar. Benar dalam arti dilandasi oleh kesucian bathin. Kesucian bathin akan muncul manakala telah lenyapnya sifat-sifat negatif dalam diri. Dengan demikian barulah benih kesucian dapat disemaikan. Hal ini divisualisasikan dalam bentuk sarana yang disebut segawu tepung tawar dan beras. Banten Tulung adalah suatu banten dengan tiga kojong yang berisi nasi dan lauk pauk dan rerasmen. Makna dari banten tulung ini adalah bahwa hidup ini saling memiliki ketergantungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan binatang, manusia dengan tumbuh-tumbuhan. Ini menggambarkan manusia disamping sebagai makhluk individu juga berdimensi sebagai makhluk social. Ciri makhluk sosial adalah memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan semua komponen yang hidup di muka bumi ini. Banten Sesayut adalah suatu banten yang melambangkan perjuangan hidup manusia untuk meraih kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup yang disebut ayu. Kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ini tidak dapat diwujudkan sekaligus, melainkan diraih dengan cara bertahap sesuai bentuk alas dari sesayut itu yang berbentuk bulat maiseh. Oleh karena itu dalam wujud apa kesejahteraan dan kebahagiaan itu dimohonkan disesuaikan jenis sesayut atau tebasan yang ada. Itu sebabnya banyak ditemui jenis sesayut yang masing-masing mempunyai pengharapan yang mengkhusus.Banten Dapetan adalah suatu banten yang memiliki makna untuk mencari, pengembangan kebajikan sehingga apa yang kita warisi baik dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang akan datang merupakan proses karma kita dimasa lampau maupun karma dimasa kini. Untuk napet (mewarisi) yang baik manusia wajib pengembangan, serta menyemai kebajikan itu kepada semua orang dengan selalu berpegang kepada Satya. Jika hal ini senantiasa dilembagakan niscaya akan dipetik hasil atau buah yang baik. Hal ini divisualisasikan dengan beras (bija) yang dicampur bunga kamboja atau cempaka (sesarik) sebagai lambang benih yang harus disemaikan, serta benang sebagai lambang kebenaran. Hal ini harus dikembangkan kesegala penjuru yang dilambangkan oleh alas sesarik yang berdimensi ke delapan penjuru mata angin. Dan masih banyak banten-banten lain yang merupakan pengejewantahan dari kebenaran ajaran Weda.

Senin, 17 Maret 2014

SABDO PALON



Sinom :

Pada sira ngelingana,
Carita ing nguni-nguni,
Kang kocap ing serat babad,
Babad nagri Mojopahit,
Nalika duking nguni,
Sang-a Brawijaya Prabu,
Pan samya pepanggihan,
Kaliyan Njeng Sunan Kali,
Sabda Palon Naya Genggong rencangira.

Sang-a Prabu Brawijaya,
Sabdanira arum manis,
Nuntun dhateng punakawan,
“Sabda palon paran karsi”,
Jenengsun sapuniki,
Wus ngrasuk agama Rosul,
Heh ta kakang manira,
Meluwa agama suci,
Luwih becik iki agama kang mulya.

Sabda Palon matur sugal,
“Yen kawula boten arsi,
Ngrasuka agama Islam,
Wit kula puniki yekti,
Ratuning Dang Hyang Jawi,
Momong marang anak putu,
Sagung kang para Nata,
Kang jurneneng Tanah Jawi,
Wus pinasthi sayekti kula pisahan.

Klawan Paduka sang Nata,
Wangsul maring sunya ruri,
Mung kula matur petungna,
Ing benjang sakpungkur mami,
Yen wus prapta kang wanci,
Jangkep gangsal atus tahun,
Wit ing dinten punika,
Kula gantos kang agami,
Gama Buda kula sebar tanah Jawa.

Sinten tan purun nganggeya,
Yekti kula rusak sami,
Sun sajekken putu kula,
Berkasakan rupi-rupi,
Dereng lega kang ati,
Yen durung lebur atempur,
Kula damel pratandha,
Pratandha tembayan mami,
Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.

Ngidul ngilen purugira,
Ngganda banger ingkang warih,
Nggih punika medal kula,
Wus nyebar agama budi,
Merapi janji mami,
Anggereng jagad satuhu,
Karsanireng Jawata,
Sadaya gilir gumanti,
Boten kenging kalamunta kaowahan.

Sanget-sangeting sangsara,
Kang tuwuh ing tanah Jawi,
Sinengkalan tahunira,
Lawon Sapta Ngesthi Aji,
Upami nyabrang kali,
Prapteng tengah-tengahipun,
Kaline banjir bandhang,
Jerone ngelebne jalmi,
Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

Bebaya ingkang tumeka,
Warata sa Tanah Jawi,
Ginawe kang paring gesang,
Tan kenging dipun singgahi,
Wit ing donya puniki,
Wonten ing sakwasanipun,
Sedaya pra Jawata,
Kinarya amertandhani,
Jagad iki yekti ana kang akarya.

Warna-warna kang bebaya,
Angrusaken Tanah Jawi,
Sagung tiyang nambut karya,
Pamedal boten nyekapi,
Priyayi keh beranti,
Sudagar tuna sadarum,
Wong glidhik ora mingsra,
Wong tani ora nyukupi,
Pametune akeh sirna aneng wana.

Bumi ilang berkatira,
Ama kathah kang ndhatengi,
Kayu kathah ingkang ilang,
Cinolong dening sujanmi,
Pan risaknya nglangkungi,
Karana rebut rinebut,
Risak tataning janma,
Yen dalu grimis keh maling,
Yen rina-wa kathah tetiyang ambegal.

Heru hara sakeh janma,
Rebutan ngupaya bukti,
Tan ngetang anggering praja,
Tan tahan perihing ati,
Katungka praptaneki,
Pageblug ingkang linangkung,
Lelara ngambra-ambra,
Waradin saktanah Jawi,
Enjing sakit sorenya sampun pralaya,

Kesandung wohing pralaya,
Kaselak banjir ngemasi,
Udan barat salah mangsa,
Angin gung anggegirisi,
Kayu gung brasta sami,
Tinempuhing angin agung,
Kathah rebah amblasah,
Lepen-lepen samya banjir,
Lamun tinon pan kados samodra bena.

Alun minggah ing daratan,
Karya rusak tepis wiring,
Kang dumunung kering kanan,
Kajeng akeh ingkang keli,
Kang tumuwuh apinggir,
Samya kentir trusing laut,
Seia geng sami brasta,
Kabalebeg katut keli,
Gumalundhung gumludhug suwaranira.

Hardi agung-agung samya,
Huru-hara nggegirisi,
Gumleger suwaranira,
Lahar wutah kanan kering,
Ambleber angelebi,
Nrajang wana lan desagung,
Manungsanya keh brasta,
Kebo sapi samya gusis,
Sirna gempang tan wonten mangga puliha.

Lindu ping pitu sedina,
Karya sisahing sujanmi,
Sitinipun samya nela,
Brekasakan kang ngelesi,
Anyeret sagung janmi,
Manungsa pating galuruh,
Kathah kang nandhang roga,
Warna-warna ingkang sakit,
Awis waras akeh kang prapteng pralaya.”

Sabda Palon nulya mukswa,
Sakedhap boten kaeksi,
Wangsul ing jaman limunan,
Langkung ngungun Sri Bupati,
Njegreg tan bisa angling,
Ing manah langkung gegetun,
Keduwung lepatira,
Mupus karsaning Dewadi,
Kodrat iku sayekti tan kena owah.

( Terjemahan bebas bahasa Indonesia )

1.
Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.

2.
Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”

3.
Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.

4.
Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.

5.
Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.

6.
Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.

7.
Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

8.
Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

9.
Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.

10.
Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.

11.
Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

12.
Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.

13.
Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

14.
Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

15.
Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.

16.
Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.