NEGTEGANG
MANIK GALIH
Sejatinya tujuan utama dari kita
berupacara adalah suatu langkah untuk mendekatkan diri kepadaNya guna
senantiasa kita selalu ada dalam lindunganNya. Untuk tujuan itulah kita
kebanyakan (selain penganut faham atheisme) memeluk salah satu agama yang kita
yakini sebagai jalan terbaik kita untuk selalu terhubung denganNya. Riilnya
agama tertua yang diwahyukanNya ke bumi pada sebagian kecil ajarannya mengenal
empat jalan untuk terjadinya perubahan hidup kearah yang lebih baik lahir dan
bathin, hal itu lumrah disebut catur marga (catur yoga). Keempatnya merupakan
jalan/marga untuk menghubungkan/mendekatkan diri denganNya/ Hyang Widhi :
bhakti marga, karma marga,jnana marga, dan raja marga.
Khusus tentang bhakti marga, merupakan suatu usaha
menghubungkan diri denganNya beserta manifestasinya dengan cara sujud bakti,
menyucikan pikiran, mengagungkan kebesaranNya dan menghindarkan diri dari aneka
perbuatan tercela/ menjauhi semua laranganNya. Demi lancarnya pelaksanaan
bhakti marga umat Hindu membuat suatu media diantaranya berupa aneka tempat
suci ( Kamar Suci,merajan, pura ), serta pratima, upakara, dan yang lainnya. Tempat
sucinya umat Hindu yang populer itu adalah pura (replika sorga), purapun
didirikan dengan aneka upakara sakralnya misalnya mecaru, melaspas, dan ngenteg
linggih yang acapkali disebut karya agung. Hindu itu agama nan unik bukan
ribet, buktinya semua ritual keagamaannya ada tingkatan-tingkatannya dari
manista, madya dan utama yang semuanya
mengandung nilai budaya dan filosofi tinggi.
Kita ambil contoh, salah satu jenis
ritual yang disebut “Negtegang manik galih/negtegang baas”, ritual ini tidak
dilaksanakan jika upacara yadnya hanya berupa puja wali biasa/ngodalin biasa .
Negtegang manik galih baru dilaksanakan setingkat upacara yadnya yang tergolong besar . Negtegang manik galih/baas, kurang lebih
merupakan suatu prosesi keagamaan yang menyatakan suatu kesanggupan untuk
melaksanakan yadnya yang terkatagori besar dalam artian siap mental juga
materi. Selain itu upacara negtegang tersebut bertujuan untuk membersihkan
alat-alat upakara yang akan digunakan untuk membentuk bebantenan. Ritual yang
satu ini berserana utama beras, beras diupacarai sebagai simbul kesiapan
beryadnya dalam artian hingga batas waktu selesainya upacara yadnya dimaksud
yakin tidak akan kekurangan sandang pangan, utamanya segala kelengkapan upakara
yadnya yang akan dipersembahkan harus mendapat penglukatan/pemarisuda di saat
upacara negtegang diselenggarakan. Idealnya saat upacara negtegang tersebut
heddaknya membuat satu tempat sakral yang sering disebut dengan “Lumbung Ayu”.
Di Lumbung Ayu tersebut ditempatkan beberapa jenis sarana upakara, misalnya
beras, beras merah, ketan, injin dan kacang-kacangan. Tak luput juga sarana
lainnya seperti minyak, gula, kopi, gula aren, tepung,bahan bumbu-bumbuan,
daun, kayu bakar dll untuk dibersihkan/diparisuda agar nantinya bisa digunakan
sebagai sarana upakara. Sarana yang digunakan saat membuat suatu upakara
hendaknya suci, maka dari itu upacara negtegang dan nyangling itu sangatlah
perlu dilaksanakan. Upacara negtegang tersebut dilaksanakan setelah pelaksanaan
matur piuning/pemiut, lalu nanceb tetaring dan pemelaspas tetaring. Setelah
alam/bhuana agung bersih, maka dimulai untuk membawa alat-alat dan sarana
upakara ke pura, saat itulah mulai dipersiapkan upacara negtegang.
Dalam rangkaian tersebut
dilaksanakan pula upacara pengraksa karya, ngadegang tapini, maguru dadi,
mapengalang sasih dan
ngunggahang sunari. Pengraksa Karya/pangemit karya bertujuan untuk memohon
bantuan kepada para bhuta kala dan panca korsika agar tidak mengganggu jalannya
upacara. Sri Raksa (bhuta Ulu Guwak), Guru Raksa (bhuta Ulu Asu), Rudra Raksa
(bhuta Ulu Singa) , Kala Raksa (bhuta Ulu Gajah) dan Siwa Raksa Bhua (Ulu
Lembu). Mereka berada disetiap sudut pekarangan Pura/Mrajan. Mereka akan
menolak segala yang berbau negative yang akan mengganggu jalannya upacara, dari
memedi, wong samar yang akan menyebabkan koos/boros serta para tamu-tamu yang
berdatangan akan merasa nyaman dibuatnya. Setelah mepengemit karya lalu upacara
mepengalang sasih di depan candi bentar (jaba Sisi). Tujuan dari pada
mepengalang adalah untuk memohon kesucian pikiran dan keterangan hati dalam
melaksanakan upacara. Mepengalang sasih ini juga bermakna “galang” layaknya
disaat malam yang gelap lalu disinari dengan cahaya rembulan purnama. Apapun
yang kita cari tidak akan menemui hambatan karna telah tercerahkan, galang juga
bermakna tidak merasakan cuntaka/kesebelan, karna dengan nunas tirta pengalang
tersebut maka pikiran kita menjadi bersih, suci dan siap untuk ngayah membuat
upakara yang suci. Lalu ada upacara ngadegang Taksu tapeni/Betari Uma Dewi,
beliau adalah dewanya tukang banten, yang mana kalau disimbulkan dalam upakara
beliau adalah dewi dari betara siwa yang selalu mendampingi beliau untuk
mengajarkan umat Hindu membuat/ngereka upakara/banten. Dewa Siwa sendiri
bergelar Sang Hyang Rare Angon, beliau akan ngangon atau mengajarkan umatNya
untuk selalu melaksanakan ajaran agama berdasarkan susastra suci (Weda). Itulah
tujuannya melaksanakan upacara meguru dadi, agar apapun yang dikerjakan
mendapatkan bimbingan dan arahan supaya tidak keliru dalam membuat alat dan
sarana upacara. Kemudian ada upacara ngunggahang Sunari, acara ini bertujuan
untuk menyampaikan informasi tentang pelaksanaan upacara tersebut kesegala
arah, dari sapta petala, sapta dewata sampai ke sapta sunia. Itulah sebabnya
lubang yang terdapat dalam sunari itu berjumlah tujuh buah/sapta Brahman.
Sunari/Sundari juga berarti indah, harmonis. Alunan suaranya yang indah itu
akan mengundang perasaan yang damai, nyaman, tentram dalam melaksanakan ritual
keagamaan. Dalam batang sunari tersebut terdapat pula hiasan Kera sebagai
lambang Angin (Marut/maruti/Hanoman). Disisi lain Sunari juga bermakna
“Sunar’/Sinar” dan I bermakna menuju, jadi dengan sunari kita dihrapkan menuju
pada kecerahan sinar. Anak kera juga juga bernama “Ape”, jadi karna “sing
nawang ape”maka perlulah sinar pencerah agar dapat melaksanakan upacara dengan
baik dan benar.
|
|
Lumrahnya setelah upacara negtegang manik galih keesokan
harinya/lusanya dilanjutkan dengan upacara “nyangling” yaitu ngingsah beras
catur warna. (mencuci beras serana upakara misalnya bahan tepung untuk nyamuh).
Upacara
nyangling dan ngingsah beras dapat juga diartikan sebagai simbol dari kesiapan umat untuk
melaksanakan upacara yang terkatagori karya agung. Nyangling sama artinya dengan nyelir
yang pada intinya menunjukkan kesiapan seluruh umat Hindu untuk melaksanakan semua rangkaian upacara yang telah
dijadwalkan hingga ke akhir acara yadnya. Setelah upacara ngingsah dilanjutkan
dengan ngereka beras catur warna untuk membuat lingga dari betara sri dan
betara sedana ( sang Hyang Manik Galih ), dibutuhkan 2 buah bokor, dialasi
dengan kain putih untuk reka betara sedana (oleh laki-laki) dan kain kuning
sebagai reka betari sri (oleh perempuan) dengan masing masing 3 buah kwangen,
beras ditempatkan paling atas sebagai kepala, di bahu dan lengan ditempatkan
ketan, lalu di perut memakai injin dan di kaki beras merah. Lingga tersebut
dilengkapi dengan kwangen dan uang bolongnya. Air ingsahan beras tersebut
disiramkan pada kaki-kaki pelinggih di pura untuk mohon kesejahteraan. Setelah
upacara tersebut dilaksanakan maka untuk setiap harinya dilaksanakan upacara
penyahian, dengan mempersembahkan banten sewentena/soda dan segehan
kemasing-masing bucu/pengraksa karya dan dihadapan taksu/tapeni. “Nahanta kawruhunakena krama tapeni, duk angengkab karya bebanten ring
penyamuhannya akarya sesanganan adegakena widhining tukang rumuhun, Betari Uma
maka widhining tukang, maka sajna sang hyang Tapeni ana pariwaranya watek
apsari, maaran dewa Pradnyan, Dewi Wastu, Dewi Kedep, ika maka guruning tukang
atanding banten, ika astiti akna rumuhun dening sopakaraning daksina panuntun
mwang pras, canang wangi-wangi mwang soda, ajuman katipat kelanan, canang raka
rayunan muncuk kuskusan, iwak sarwa suci, sari arta sakotama”
Mwang ana
pariwaranya watek bhuta, ngaran ni Buta Kencak, Ni Bhuta Swadnya, Ni Bhuta
Pancad, ika kang juru karya gupuh, wehana labaan, sega telung pangkonan, iwak
sakewenang. Wus mangkana angawiti sira akarya, den ambek suci juga ayuwa sabda
gangsul, wak prakasa, mwang cemer, tinemah kita de betari, balik sabda rahayu
juga ucap menak maka ucapanta, apan risedengta akarya banten ya ika kalanta
angajum rupa warnaning mwang pawayanganing sarwa Dewata-Dewati, Bhatara mwang Bhatari, ika
nimitaning whidi widana aranya ikang sarwa bebanten, apanya dadi lingga, dadi saksi, dadi
cahya, dadi cihnaning wang astiti bhakti ring widhi, panunggalanya ring raga
juga ya staning widhi anuksma, ring bumi unggwaning astiti.
Seimbangkan antara upakara, ritual dan tattwanya, karena itu
merupakan yadnya, kalau menyimpang dari tattwanya disebut “buta”, kalau tidak
memakai tatanan/susila yang benar disebut “tuli”, kalau tidak menggunakan
upakara disebut “lumpuh”, kerjanya sia-sia, karena merupakan manipestasi dari
tubuh kita. Damar Sentir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar