Selasa, 21 Mei 2013

TUTUR RERAMA



SURGA DI TELAPAK KAKI IBU


                        "IBU, dalam kegalauan hatiku menjalani kehidupan ini, kemanakah aku harus mencari tuntunan dan pijakanmu?"
"Nak, heninglah sejenak. Bebaskan pikiran mu dari tugas-tugasnya untuk memahami kehidupan yang tak kuasa di pahaminya. Biarkan ia istirahat dan hanya menjadi pendengar bahasa hatimu yang netral. Dengarkan pesan-pesannya yang bijak dan bebas dari penilaian. Karena saat itulah , Sang Jiwa dalam dirimu, sedang bicara padamu sebagai hati nurani.                                                                                                                                                                         

            " Baiklah Ibu, Ajarkan padaku bagaimana caranya agar aku bisa melupakan peristiwa saat seseorang menyakiti perasaanku?"
"Nak, tepat saat batinmu disakiti seseorang, terimalah. Sebab saat itu pula hutang karma mu terbayar lunas. Rasa sakit yang pernah kau timbulkan pada hati orang itu di kehidupan sebelumnya, kini telah terbalas. Maka bersyukurlah hutang karmamu terhapus dan kau telah bebas dari dosa masa lalumu itu."  
                                                                                                                     
               "Ibu, saat kesabaran ku sudah benar-benar habis menghadapi kata-katanya padaku, apa yang harus kulakukan?"
"Nak, selama kata-katanya tidak membunuh mu, biarkan saja. Karena dengan      mendengarkan semua kata-katanya yang menyakitkan itu, kau sungguh sedang membantu-Nya menyembuhkan orang itu dari penderitaan yang dialami batinnya. Sebab, hanya orang yang menderita yang akan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan."       
            
                  IBU, jika aku sendiri tidak membalas orang yang menyakiti perasaanku, siapa yang mengajari     
                                   orang itu agar tidak lagi menyakiti orang lain?.
            "Nak, jika orang menyakiti hatimu, justru dialah yang mengajarimu bersabar. Biarlah orang lain yang mengajarinya untuk lebih baik. Jika tak ada yang menyakitimu, siapakah yang nanti akan melatihmu tentang kesabaran?". 
  
                  IBU, ajarkanlah padaku bagaimana caranya mengendalikan pikiran yang begitu liar dan 
                                       sering  kali malah menyakiti diriku sendiri!
            "Nak, jika kau tak kuat mengendalikan pikiran-pikiran yang merugikan hidupmu, ikuti saja kemana imajinasimu membawanya, namun begitu jangan sertakan rasa hati agar bathinmu tidak ternodai olehnya. Jangan pula kau ikuti dengan kata-kata apalagi menjadi prilaku. Biarkan itu hanya menjadi pikiran yang lama-lama akan terhenti sendiri".

           IBU, ajarkan padaku rahasia  tentang dosa, agar aku bisa terhindar darinya dalam kehidupan ini.
            "Nak, dosa adalah segala hal dari pikiran, kata-kata dan prilaku yang membuatmu menyimpang dari sifat sejatimu yang penuh cinta kasih, atau segala hal yang membuat perjalanan hidupmu dalam tubuh manusia ini menyimpang dari tujuan kelahiranmu, itulah Dosa.  Rasa bersalah terhadap penyimpangan itu akan kau rasakan sebagai hukuman pada bathin, inilah yang kau sebut sebagai hukuman atas dosa-dosa. Untuk menghindarinya jadilah pribadi yang penuh cinta kasih". 

                              IBU, jika aku berhenti atau tidak percaya lagi dengan hukum karma, apakah aku tetap 
                                                           terikat pada hukum tersebut?".
            "Nak, hukum karma bukanlah untuk dipercaya atau tidak dipercaya, ia hanya  perlu diketahui ada sebagai suatu keniscayaan yang mengatur semesta ini, kau boleh percaya atau tidak percaya bahwa jika kau menyentuh api tubuhmu akan terbakar, jika kau menyentuh air tubuhmu akan basah, merasakan manis jika mencicipi gula atau bahkan merasakan pedas jika kau memakan cabai. Tapi semua itu ketahuilah akan tetap terjadi sebagaimana mestinya, entah kau masih percaya atau tidak pada hukum karma, maka hati-hatilah memilih karmamu sendiri, karena dengan itulah kau akan mendapatkan Pahalamu".

                              IBU, kenapa cinta dan kasih sayang akan memudahkan kita dekat dengan apa yang kita 
                              harapkan, dan kebencian akan menjauhkan kita dari kebahagiaan yang kita harapkan?
            "Nak, di alam semesta ini tercipta dan berlaku hukum Panas  dan Dingin. Panas akan memisahkan materi-materi yang ada, dan Dingin akan membuatnya mendekat dan bahkan menyatu kembali. Kebencian adalah panas  yang akan memisahkanmu dari  harapan dan cinta serta kasih sayang adalah kesejukan yang akan mendekatkan segala harapanmu. Dengan hukum sebab akibat ini maka jika kau memilih memiliki hati yang sejuk penuh cinta kasih maka akan banyak pribadi-pribadi yang mendekat padamu, demikian pula sebaliknya".

                           IBU, apa pesanmu yang mesti kusimak pada malam sepi yang gelap ini?.
            "Nak, hanya malam yang benar-benar gelap, setitik cahaya akan mudah kau temui dan kau syukuri. Begitulah dalam gelapnya penderitaan hidup yang kau alami, hanya dengan itu kau bisa mensyukuri berkah-berkah dari-Nya sekalipun hanya setitik cahaya akan bisa memberikan harapan padamu untuk melangkah dengan selamat".

                 IBU, begitu banyak cobaan dan ujian mesti ku jalani dan ku lewati dalam kehidupan ini, sampai  
                                           kapankah akan berakhir segala  penderitaan ini.
            "Nak, segala ujian serta cobaan bagi bathin dan mentalmu dalam hidup ini akan terhenti tepat ketika kau berhasil menghentikan keluhan-keluhan atas kesulitan hidup yang kau alami, selama kau masih mengeluh, selama itu pula kau akan merasakan hidupmu dipenuhi cobaan dan godaan,"Nak, sebagai AYAH-IBU semestamu, hari ini akan aku bukakan rahasia kenapa selama ini aku tidak selalu dengan cepat membangunkanmu  setiap kali kau terjatuh dalam penderitaan dan duka duniawi, itu tiada lain karena sesungguhnya aku hanya ingin melihatmu mau tumbuh kian tegar dan bangkit dengan caramu sendiri, kau mesti belajar tumbuh matang demi kelahiranmu sendiri. Sebab kelak dalam kesadaran semesta Jiwamu sendiri akan bersama-Nya kembali menjadi Ayah-Ibu bagi semesta raya ini".

                             IBU, hidup ini terasa begitu sulit untuk kulalui, bahkan rasanya aku ingin mati saja demi 
                                             terbebas dari beban hidupku, apa yang mesti kulakukan?.
            "Nak, kenapa kau meremehkan begitu saja dirimu, jiwamu bagian dari-NYa, tubuhmu tercipta dari materi semesta raya ini, dan kau sendiri tercipta dari kesempurnaan kreasi-Nya. Meremehkan dirimu berarti kau meremehkan ciptaan-Nya. Bangkitlah, temukan bekal kecerdasan yang sudah kau miliki dalam dirimu untuk bisa hidup di dunia ini. Dan mulai berhentilah berpikir bahwa kematian akan membebaskanmu dari beban penderitaan, selama kehidupan ini masih menjadi beban bagimu, maka kematianpun akan menyisakan beban bagi Jiwamu".

                                     IBU, bagaimana caranya untuk bisa selalu bahagia di kehidupan ini?.
            "Nak, setiap ruang dan waktu dalam kehidupan ini selalu dipenuhi oleh bagian yang bahagia dan tidak bahagia, pikirkanlah bagian yang pernah membahagiakanmu di masa lalu, yang sedang membahagiakanmu di masa kini dan yang akan membahagiakanmu di masa depan, maka seluruh hidupmu akan dipenuhi oleh kebahagiaan. Kau hanya perlu berlatih untuk melihat bagian-bagian dari kebahagiaanmu".

                    IBU, aku menyerah menghadapi penderitaan hidup ini, bebaskanlah aku dari semua duka ini.  
            "Nak, untuk setiap penderitaan yang kau alami di kehidupan kali ini, kau memiliki dua pilihan : menjalaninya dengan ikhlas dan berusaha tegar lalu bangkit setelah semua itu berlalu, atau kau bisa menyerah dan meninggalkan kehidupanmu kali ini.  Namun begitu untuk setiap penderitaan yang tak berhasil kau pahami rasa dan tujuan kehadiran-Nya  dalam hidupmu, kau akan mengalami lagi dalam kehidupan berikutnya hingga kau mampu memahami dan melewati sebagai pembelajaran  demi pembebasan jiwamu nanti".       

                           IBU, untuk apa sesungguhnya aku dipertemukan dengan orang-orang yang sifat dan sikap 
                                                            pribadinya begitu sulit kupahami?
            "Nak, setiap orang yang hadir dalam hidupmu adalah cermin bagimu untuk mengetahui tingkat kematangan jiwamu dalam kehidupan ini. Untuk setiap orang yang sifatnya belum kau pahami, sebenarnya ia sedang menunjukkan bahwa ada bagian dari sifat-sifatmu sendiri yang belum kau pahami, hanya saat kau benar-benar memahami dirimu sendiri kau akan mudah memahami orang lain sesulit apapun itu, itulah kematangan jiwamu anakku".

                          IBU, ajarilah aku cara termudah untuk memperbaiki sifat-sifat buruk orang agar mereka 
                                                   menjadi baik.
            "Nak, mulailah dengan tidak menilai bahwa sifat orang tersebut buruk, karena menilai orang lain buruk adalah sifat yang buruk. Lalu lakukan perubahan  sifatmu sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam kehidupan ini dan biarkan orang lain yang meneladaninya jika itu bermanfaat bagi mereka".

                    IBU, betapa sulit nya mencegah dan menghilangkan kemarahan, tolong ajarkan padaku!.
            "Nak, kemarahan dimulai saat pikiranmu menilai bahwa sesuatu itu tidak pantas terjadi dalam kehidupanmu, karena kau terlanjur mengharapkan sesuatu yang berbeda dari semua kenyataan itu. Maka belajarlah melihat bahwa sesuatu yang tidak kau inginkan itu adalah sesuatu yang sesungguhnya pantas kau alami sebagai bagian dari putaran hukum karma yang mesti kau lalui, saat kau pahami rahasia rahasia karma dalam kehidupanmu kau akan dengan mudah mengendalikan amarah  sebab kau telah melihat kepantasan dari apa yang pernah kau alami, tak lain dari karmamu sendiri terdahulu".

                            IBU, aku ingin melakukan pekerjaan yang mulia di bumi ini, beritahulah Ibu, pekerjaan 
                                                       apa yang mesti aku lakukan?.
"Nak, setiap pekerjaan yang dilakukan sebagai persembahan kepada semesta dengan penuh cinta kasih adalah pekerjaan yang sangat mulia. Dan karena jiwamu adalah bagian dari-Nya yang berada dalam tubuhmu, maka lakukanlah pekerjaan tubuh dan pikiranmu di dunia ini sebagai bentuk persembahan bagi jiwamu yang ingin mengabdikan hidupmu di semesta ini dengan penuh cinta kasih. Itulah pekerjaan mulia karena dikerjakan dengan hati dan jiwa yang mulia".



Senin, 13 Mei 2013

NYAMANE PATPAT



TUTUR SARINING ADHI PHALA.

 i


                Iki panugrahan Bhatara ring Dalem, nga. sarining adhi phala nia, temah, wisya, dusta ring awak ngawe gering salah beda, buduh, kalanan, ampah yusa, kohos ring brana mulya. Yan sira pingit nganggo panugrahan iki, moga sidhi ngucap, akadang Dewa, katwaning jagat kabeh,wenang sira nunas ica ring Dewa, wus mangkana wenang sira nuduh Sang Hyang Panca Maha Bhuta, wenang ngasorang sehananig tenung, sakeluiring mantra, tutur satus cakep alah denia, banten asoroh alah denig ajuman adulang, mangkana uttama nia yan sira ngangge panugrahan iki, nanging sira tan weruh ring kawisesanta,  yan genahang ring umah, Sang Ratuning sarira, dadi pangijeng umah, sedaging pekarangan kaempu denia, nanging elingakna baktinin dening banten ngangken dina rahayu, wenang sira ngangge pangijeng umah, tan kewasa sira kelangkahin, tan keneng wisya, pepasagan, papendeman, acep – acepan, umik – umikan, sakwehig pagawe ala alah denia.
               Malih yan sira astiti bakti ring Ida, wenang gawenang Khayangan, nista nia, Turus lumbung, Madya nia Gedong, Padma Uttama nia, aywa lupa ring bebanten nia, ngangken dina rahayu, dadi sakti kiwa tengen, tan kasoran dening sarwaning sakti, katekanig Desti, Leak, Bebai, pada nembah ring sira, dadi kauttamanig balian. kauttamanig mantra, kauttamaning kamoksan sekala niskala, sira mungguh suwaha, mangkana uttamnig tutur iki.
             Iki kaweruhakna, pewarah Bhatara ring Dalem, duk sira wawu mijil ring madya pada dadi manusa, ana Sang Hyang Tiga Sakti sareng mijil, kairing dening Sang Hyang Panca Maha Bhuta, Ida Sang Hyang Tiga Sakti anerus ring buwana agung, dadi panembahan jagat, malingga ring Pura Dalem, nga. Sang Hyang Sunia Mretta.  Ne malingga rig Pura Puseh, nga, Sang Hyang Yogi Swara. Ne malingga rig Pura Desa, nga, Sang Hyang Manu, Ida Sang Hyang Tiga Sakti tunasin kasidian, reh Ida Sakti sidhi ngucap, Ida punika susupang ring raga, Bhtara Dalem adegang ring Siwadwara, nga, Ayu Mas Rangda. Bhatara Puseh adegang ring uswan, nga, Sang Hyang Nila Sraya, Bhatara ring Desa adegang ring selanig lelata, nga, Sang Hyang Smara Bhawa. Ida sakti ring sarira, tan hana wani ring sira.
           Muang Sang Hyag Panca Maha Bhuta, weruh akna kawisesan nia sowang – sowang, muah pasurupan nia kabeh ring sarira, iki luir nia: Ikang panuwa meraga Yeh Nyom, Dadi Bhuta Putih, dadi Bhuta Anggapati, nga, Sang Sidarasa, madeg patih rig Pura Ulun Swi, nga, I Ratu ngurah Tangkeb Langit. dadi Dewan Tugu, Dewan Badugul, dadi dewan Sedahan Sawah, muah dadi Dewa pangempu Gumi, dadi Dewa Sarwa sato, yan ring raga magenah ring Kulit. pewayangan nia, segara tanpa tepi, aksara nia SANG meraga mretta sanji wani, trebasan nia dadi peluh, wenang nglukat saletehing sarira, sarat mangan, yadyan kena saupedrawaning Pitara, kalukat denia, Pewayangan nia katon kadi langit galang, kadi kukus, kadi damuh kumaretes, Lelaban nia, ketipat dampulan, taluh bekasem, canang pasucian, segehan nasi kepelan putih, iwak bawang jahe tasik ireng. ilmunya  ang ung mang sryiem  mantra ping 5
              Sane paling wayahan, mawak getih, dadi Bhuta Bang, dadi Bhuta Mrajapati, nga, Sang Sidha Sakti, madeg pepatih ring Pura Sada, nga, I Ratu Wayan Teba, dadi Dewan gunung – gunung, Dewan alas, Dewan Marga, Dewan Geluh, yan ring raga Ida magenah ring getih, nga, Tampaking Kuntul angelayang, aksara nia, BANG, meraga mretta kamandalu, trebasan nia dadi bayu, Wisesa nia nyaga satru rahina wengi, anulak sakeluirig dusta durjana, sekaryaning ala wedi denia, pewayangan nia katon kadi geni, kadi gunung, kadi alas, kadi taru mageng, kadi marga lor. Laba nia, ketipat galeng, ulam taluh, canang pasucian, segehan nasi kepelan barak, iwak bawang jahe, tasik ireng. ilmunia  ang ung mang ong tyem  mantra ping 9
            Sane Madenan, mawak ari – ari, dadi Bhuta Kuning, dadi Bhuta Banaspati, nga, Ratu Maskuwanda, madeg pepatih ring Pura Puseh, meparab Ratu Made Jelawung, dadi Dewan karang, Dewan tegal peabianan, dadi Dewan Mala Hening, ring ragane magenah ring daging, nga, Galihing Kangkung, Aksara nia, TANG, meraga mretta kundalini, trebasan nia ring bulu, rambut, wisesa nia nulak sakeluirin upas, wisesa nia, mandi teka tawar denia, pewayangan nia katon kadi tegal, kadi angin, kadi umah, kadi tembok tegeh, lelaban nia, ketipat gangsa, iwak sate gede, canang pasucian, segehan nasi kepelan warna kuning, iwak bawang jahe, tasik ireng. ilmunia ang ung mang sryiem tyem mantra ping 7
           Sane Nyomanan, mawak lamas, dadi Bhuta Ireng, dadi Bhuta Banaspati Raja, nga, Sang Aji putra Putih, madeg pepatih ring Pura Dalem, meparab, Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, Ida sakti tan kena winilang, sakti sekama – kama, Ida dadi Dewan Sema, Dewan Tukad, Dewan pangulun pangkung, dadi dewan Detya Tonya, dadi Dewan Samar, dadi Dewan Taksu, unen – unen, taksu dalang, taksun balian, tenung, saluiring balian sakti, ida ngelancubin, sakti nerus, Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, yan ring raga magenah ring otot, nga, isinan buluh kumbang, aksara nia, ANG, meraga tirta amretta, trebasan nia dadi banyu, Ida wenang ngasorang saluiring mantra uttama. Ida wenang ngawe piolas, ngawe pangedeg, ngawe ujan, manerang, Ida wenang impasin grubug, saluiring panca baya ring sarira, teka tingglar denia, wenang ngawe pangidep ati, wenang ngawe peglantih medagang, maha sakti maya – maya, wenang ngawe koos, ngawe inih, pewayangan nia katon kadi paksi, kadi manusa patuh ring ragane, kadi anak lingsir masaput poleng, kadi sarwa sekar, laba nia ketipat gong, iwak nia taluh bebek maguling, canang pasucian, segehan nasi kepelan ireng, iwak bawang jahe,tasik ireng. ilmunia ang ung mang tyem hem mantra ping 4
          Malih sane pinih ketutan, meraga yeh heningan sarira, dadi Bhuta Manca Warna, nga, Bhuta Tiga Sakti, dadi Bhuta Dengen, madeg pepatih ring Pura Desa, meparab Iratu Ketut Petung, dadi Pagempu anak beling, dadi pangempu rare, dadi pangempu raga, tan sangsaya ring paran –paran, muang dadi sarwa karya, dadi sangging, dadi tukang, dadi pande, yan ring raga magenah ring jajah, nga, Lontar tanpa tulis, Aksara nia, ING. meraga mretta pawitra, trebasan nia dadi rasa, Ida dadi pengasih jagat, wenang ngalahang satru sakti, pewayangan nia katon kadi peken, katon kadi rare, kadi anak luh jegeg, dadi Dewan gumatap gumitip, laba nia ketipat lepet, ketipat nasi pada – pada akelan, ulam taluh bebek, canang pasucian, segehan nasi kepelan brumbun, iwak bawang jahe tasik ireng, ilmunia ang ung eng hem men sryiem ong mantra ping 8
          Pangredanan nia, panugrahan Bhtara ring Dalem.I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, I Ratu Wayan Teba, I Ratu Made Jelawung, I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, I Ratu Ketut Petung, aja sira lali asanak ring ulun, apan ingulun tan lali bakti astiti ring sira, lah pada metuta sira maring sunianing adnyana, wehan ulun wara lugraha sakti sidhi ngucap, ong winursita rahasya muka, angamet sarining mretta kesuma namah swaha. 
             Malih hana pangredanan nia liyan. wenang dulurin antuk atur polos. saha pinunase, yan sampun patut upekarane, dadi sidhi sakti sakeluiring tunas, yan sira kurang kasidhian, arad Ida, mangda gelis manyeneng ring raganta, karyaninn ketipat kadi munggah ring arep, dulurin rayunan apajeg kadi katur ring anak agung, ulam bawi, bebek, pada wenang, olah dena sregep, mangda sami becik, maduluran peras ajuman, suci asoroh, daksina, sarwa rantasan, kampuh poleng, tetabuhan genep, arak, tuak, brem, yeh, mangkana krama nia, yan makayun ngadegang kasidhian ring ragane, ayat Ida, Sang Hyang Panca Maha Bhuta muang Ida Bhatara ring Dalem, Puseh, Desa, sami susupang ring raga, mangda sami Ida sweca, ngawijilang iyuse.  Mekadi pangenter kesaktiane, I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, sareng sameton sami, sane sampun madeg patih, nampihin I Ratu Nyoman.
Iki tatenger nia ring raga.
- yan kerasa gede raganta, muah metu peluh tanpa sangkan, ika cihna nia I Ratu Ngurah Tangkeb  
   Langit malancub ring raganta, sakwehing leteh ring raga ilang de nia.
         - Yan kerasa kebus bahang murub, ika cihna nia I Ratu Wayan Teba melancub ring raganta, sakwehing
            satru muang gering kalukat den nia,
       -  Yan kerasa makesyab awakta, muah mabuah – buah kulit bulunta jering – jering, ika cihna I Ratu
            Made Jelawung melancub ring raganta, sakwehing wisya, upas, lebur den nia.
        - Yan kerasa makleteg tanpa sangkan, ika cihna nia I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan melancub ring
           raganta, sakwehing wisya pada ilang den nia.
        - Yan kerasa teteh mangrawos, ika cihna nia I Ratu Ketut Petung melancub ring raganta, sakeluiring 
           satru pada asih den nia, muang sanak raman nia, mangkana kramania sowang – sowang aywa lupa,
           ingeta akna.

Selasa, 02 April 2013

TUTUR LEBUR SANGSA



TUTUR LEBUR SANGSA

Om Archanam Astu
         Ling ira Sang Hyang Lebur Sangsa, nga. Iti piteges pengawak Ing Kukus manik, pengawak ing Balengbong, pengawak ing Amertha, pengawak ira Bhetara Hyang Widhi, Sapta Dewata, Hyang Widyadara-widyadari, pada anjama dadi manusa sakti. Matemahan Pandita dharma wisesa, matemahan ratu wibuh, sakti kerta laksana, lan matemahan wesya samaguna, muwang sudra yoni. Maka sepat Bendesa Pasek, Gaduh, Kedangka, Kubayan, Ngukuhin, Salain muwang De Batuaji Tulikup.
Ika ta pesamodayan ira, kangken saksining loka, wenang anyaksinin paminta srayaning kadewatan. Ya pada wenang aprawita mabresih, doniyan putus ika pengasryan ing wang ring dewa. Yan tan samangkana ulah ing wang aminta sraya ring dewa, metu kala ambaksa. bingung ring pamuktyania. Yan sampun angange sipat siku-siku kading arep metu ikang udan amertha.
         Mayoga bhatara Siwa urip Bhatara Wisnu, Bhatara Brahma, Bhatara Iswara. Matemahan Bhatara Guru Tunggal, tibeng sawang bhawana, nga. Sawang Bhawana nga : Apah, bhumining amertha, yan tan samangkana tingkahing amara sraya, tuwi anyaksyaken panahuran Tan Sidhajati Purna. yan apanahuran ring Purnamaning ka 7, ya juga wenang. Iki parikandha yogya tinut, tingkahing dadi jadma, poma. Aja pepeka, panresti nira SANG HYANG LEBUR SANGSA,nga. aywa cauh.
           Iki punang Aksara yogya takonakna, yan sira arep weruha ring wreti nikang ala-ayu ning raga sarira ta anadi janma manusa, Ong warah kita mene, ana nikang dandha pati ikang janma manusa, yan nora kinaweruhan kadang warganya ikang lagi uripdadi pada Atma Sidudu, keneng prasangsa nga, ya ta amiroga selawasnia, mwah sakuweh ikang bhuta ring awknia, juga sama angubeda angadakaken gring mangiyut, anadi bhuta Manca Warna, Panca Wara Kobor, dadi Sapta Wara Rukem, dadi Dase Sesa. dadi maduk ika sabdania, metu salah ucap, dadi buduh, pateleng solahnia, kerana saenyahnia angresana, kesasar werat Kawitnia salah mangreka Padma Sari, Anda Amertani.
           Tehar ring raja busana, Catur Kokila, ikang base iwak, dadi mangkana saterehnia angremasin, tinagihin karubeda, tan sah Sang Hyang Yama amburu, mareng jurang parung lalari, sakwehing wang mahala macarman ing ila-ila, papa tineher, mwang petaka klesa. Apa lwirnia, Ya ta Moha, Lobha, Angkara, Kangkang, Dursila.
        Yaniya Long Sastra : anyolong paturus ning wong wadon waneh, yan ya anyolong smara ya ika pitarania mengangsuh, sama turun dadi kala mwang bhuta. Dewata ning manusa :  Bhatara Wisnu matinggal sira saking kulit, Bhatara Brahma matinggal sira saking Daging, I Bhuta Sruyut umungguh sira maring Otot, Sang Bhuta Srasah Rudira metu sira ring Getih, Sang Bhuta Putih metu ring Papusuh, Sang Bhuta Kuning metu sira ring Ungsilan, Sang Bhuta Bang metu ring Ati, Sang Bhuta Ireng metu ring Ampru, Sang Bhuta Saliwah metu ring unduh-unduhan ing Hati, Sang Bhuta Kantara metu ring MAta, Sang Bhuta Tantra metu sira ring panjing, Sang Bhuta Kama metu ring Macepak. Ika pengangon sira Sang Hyang Yama, asing kepangan metu gring, metu upas. Kadyang apa pekatonania,
           Ana malih babhutania mangiyut ring awak, mangadakaken salah tan salah ujar, salah krama, salah rasa, salah ulah, makarep salah bikas, ndya ta temahania. Mangiwat, mangupas, mamaling, anayub, ambek, anumpung, andalu-dalu, anyenyirep, sawaneh yan ya anglangkar wang tuwania, anglangkar ring guru, mwang babu pingit, anglangkar wang wiku, yan ya anglamit ring guru mwang babu pingit. yan ya mada mwan anayab ing guru wadhu, saliwer angucap salah ing guru mwang bareta jog, yan ya anglalen somah rowang, yan ya angaku-ngaku bhudi tan patut. Yan ya wirasa rum amanis hatine teher arusit. Metu upaya singid angepet silib padrewya ning wang, inupaya niya den gawenan wicara, ginaweaken wiweka praya, mangkana pwa ulahing wang. Cendek tuwuhniya ikang wong mangkana, wirasa mika tan abener, ya ika mangawe mala, anemu sangsaya wang mangkana.
                Kunang ikan KRETA, JAKSA, PAKENCA, anilib rasa agamalewih, amiweka anibakaken tan tuhu mabener, wisesa. Tan patut ing pakerta agama, yan mangkana luwih dosanya tan kurang pati. Ya matemahan papa satuwuk, tan ana pamarisudhaniya. Kunang yaning lwih sabda, maku mawruha, asing pakon, tani pakon, ya juga ngangken wruha, mangkana prawertining wang, Dhanda Swara temahaniya, ya dadi bega tumitisaniya. Kunang yan dadi ya kita Penyarikan, kumet ademit, dhandaniya geng ring kepatianiya, mwang ring panjanmaniya matemahan branta-jnyana, tirido. Yan ya balian tanpa usadha, geng dhandaniya ring kepatianiya, Kuwang-Awak ngaran, Dhanda Karuban Bhaya, ketarukan ing bhaya, angaku dewa, angaku-aku pitara, angarupa tata ning pedas ring rasa usadha, Dhanda cendek tuwuhniya, satuwuhniya anemu sasar, nemu sasar wang mangkana. Padha betara mwang dewata anadha ya riya, tumut tang kala anandha ya. Apan ya kesaluk ring I Bhuta Kakeretan, dudu ulahning wang mangkana, nora anggange sepatutning usadha, mwang dharmaning padukunan, Mesah Kangundang ngaran. Dhandaniya kalebu ring pati wekasan.
                Ana wang maguna agama-gaman, sakwehning gagunaniya tan maka geng gugwaniya ring dharma sastraniya nguni, geng dhandaniya ikang wang mangkana, neraka kapejahaniya delaha, ndan tumitsaniya ngawetuang salah rupa, salah ulah, salah idhep, metu saenyahniya salah jeneng. Kunang wang mangeliyak, kajenek ing ULAH PAPA KARMA, Sad Tetayi, Anesti, Aneluh, Anerangjana, Angupas, Anyetik, Angeracun, Amati-mati wang tanpa dosa, mwang tanpa kanda yan ya angawe pati ning wang, angadu-adu, amipisuna, angadakaken nora, salwiring tan patut, mwang dursila ulahniya ring rat, polah angadug ring wang desa, Anilib Pati ning namaniya wang. Yan ya angada-ada dandha KARUBAN ING LANGIT wang mangkana. Kunang ring wang Krida Laksana Agamya-Gemana , yan taruna angalap balu, dhanda Koruh ring Para Atma, tan sah anandang prihati, tan pegat ring  wyawahareng sarat. Taruna amet sapihan dhandaniya anemu wirang, kinungkungan lara, kurang pangan. Sapihan apisan pengawak wisya, sapihan ping ro pengawak Dremba, sapihan ping tiga pengawak cetik, mwang racun, sapihan awor balu langkung ring ping tiga ika ngaran Kalika Maya, pengawaking Dhurga Manik, tan sipi wisesaniya, amignaning sang maka lakiniya, dosaniya cendek tuwuhniya, yan tan pejah kawignhan rahat, anadi buduh,kapiragan angilangaken kawibawan, kagunan, kapradnyan, mangkan phalaniya. Yan balu angalap Balu, katemu pada balu, dhanda Korup ing Durgha, tekeng luwun dadah ring pekaranganiya, matemahan Dengen, mwang Kala Durgha Merana, amigraha ring paumahaniya, ikang Dengen malingse, ya anadi leyak, dadi Moro, dadi tiwang Bebai, mwang sarwa Desti. Yan ya jejaka mwang Rara temuaken eng wang atuwa, padha tan akrama, padha awerat dhandaniya, ikang rara tuwa kadi segara laraniya, ikang jejaka tuwa kadi mgunung laraniya.
Kunang yan Sudra Wangsa mwang asing soran wangsa ikang laki atemu rasa lawan istri menaka, istri kasinggihan, werat dhandaniya kurang pati, terus tumus tekeng swa-wandhu warganiya, mwang sa-enyahniya karubaning dhanda, kadi we mili patemenganing lara prasangsa ring awakniya. Yan wang Welaka angalap Wiku wastu tibeng  walahar lebur sagunaniya, tuwi angelancubi wang wus Wiku, geng werat dhandaniya, sapretiwi lawan akasa bwating papa  tinemuaniya, saterehning angemasin kesakita tekapniya. Yan wang wiku angalap walaka geng dhandaniya, wastu tibeng walahar, lebur sagunaniya, ilang dharmaniya, mur ikang athaka widhi ring sariraniya, saluiring amertha matemahan wisya, amilara ring awakniya.
                Yaning wang wadon lobha ring wong lanang, yan ya anglosi guru-lakiniya, amegat sih ning kakung, mapa ri kapejahaniyadelaha, tumitisaniya wurung anadi manusa, ya anadi asu wadon, kena kepastu dening guru pitara, muwah katemah dening Babu-Pitara, mangkana wang tuminggal ing priya, dudu ulahing wong mangkana, kudu niyan auriptan weruha ring kanda jati, tan wruha ring kandaning kepatian, kewala ya wruh ring mangan juga, sakteng sanggama, marmaning dadi angkara karope, apan ya kena upadrawa, kena sapaning dewa, terus teka kapatining wang mangkana kalebok ring kawah, bwat sengsaraniya, tan sah sira karigeding mala, salwirning ila-ila, papa-klesa, dursila, teka ring patiniya sasar bwat nerakaniya. Yata setata salah ukur, salwir ikang inucapniya tan bener, bwat sasarniya ika, akweh wirasa sawud saabdaniya tan ririh, ilar-ilar lathiniya, sarasaniya salwiring tan yogya tinut ring wang tingkahing janma tan patut, dudu janma kalinganing mangkana, ya nganran Tunggak Sema, Tunggak Wareng, Urpati ngaraniya, kena kagni-baya, kepanca-baya, katoya-baya, keraja-baya, karipu-baya, mwang karubuhan taru, kaloka-pala, kasimpanganing ulu-dusta, kasimpanganing tayeb, uluku maka pepetan silik, kareka-baya, ikang janma kurang pakerti, kawitaniya kena dase dhanda desa, matangniyan ana kakareniya kang kalebu pati, mati rare kabebeng, kapegatan sih, cendek tuwuh, katiban hukuwung, mati megantung, mati makendat, kegantungan mala, ika kabeh janma ila-ila, KURANG PAKRETI ngaran.
                Ikang ingaranan pabratan anadi janma, akweh malaniya, akweh laraniya, marma ning akweh pakretiniya, akweh dosaniya, akweh dhandaniya abwat adangan, ginangsal ira liniketing surat kapatyan, surat nga, ling ira sang hyang atma, rikalaning kapatiyan ta ingadang atmanta de nira Sang Hyang Yama-Dipati, maloih aran Bhatare Brahma, umungguh ring Gni Loka, tinakwanan ta Sang Atma, ling ira"Ana surat ginawanan ta ngunitekaning urip, duk inguni mwang pati, ikang tullis panugrahan nira Hyang Sinuhun". Dadi ta kahenengan sawuwus nira sang Hyang Yama, dening Atma wimuda, tan wruh i kalinganing raga sarira, apan ikang janma kabeh wus asurat prawertiniya anadi manusa, yan ahala mwang ahayu prawertiniyamangkana linging Widhi. Kalinganing kang tulis nguni ika ne anglukat angelebur malan ikang janma kabeh, wus asurat, ikang akweh dosaniya, kinon de nira Sang Hyang Yama angelebokaken maring Yamani, maring Brunah, abwat adhangan ikang dosa, sama kegantungan dhanda, wekasan metu larane dadi bisu, tuli, kalimance, kilanden,pengpongan, samangkana dhandaning wong, apa ya salah arep kaluhuraniya, marmaning samangkana panjanmaniya abekel lara mala, mwang laraniya nga, kerangan, nyulakrik, lupa, kuming, beluh, kaladan, ebuh, busung, deyog, dongkol, lekem banyu, kipa, dopang, wudug, basur, latek, sakel, kejar, mati wala, nebujali, kipkih, bekung, belaburan, salah patiedan-edanan, ika sekarananiya kabeh gering winawaniya tumuwuh, ya angawe mala, angawe lara, maka dhandaniya anjanma ta mangke, ika kabeh pada linebur, pada lukate, mulih maring Dharma Loka mwah, terus maring Wisnu Loka de nira Bhatara Brahma-Wisnu, winastu dening Bhatara Guru, samangkana pwa ya yan arepa rahayu terus panjamanta, tekeng patinta dalahe, marmane tawurane dhanda dosaning anjanma, mwang dhanda patinta. Ana pamarisudha niya pamurna nika kabeh, panebasan kadi asakapan, ANILAPATI nga. Yata tinuta panugrahan nira Sang Hyang Lebur Sangsa, Bhatara Brahma pasanggahan nira, sira sang kangken apande besi, anganakena ikang sarwa janma ring merca pada, tumut Bhatara Wisnu sang maweh ana dhana ring panguripanta, makadi sira Hyang Parameswara, sredha sung nugraha umuripa pangjanmanta, mangkana juga rahayu tinemunta kataka tekeng dalaha.
                Yan sira arep anjanma rahayu, ikang tutur jiwa den atatas, awya alpaka, awya bancuri, kalinganing raga sarira pradata kna, ikang AJI AKSARA, mwang SASTRA SASMRETI den keraksa, den tinut, Igama den pawitra, den aterang-apadang, Inagamanta lagya urip, pakreti mden abener, den rahayu laris nira sakeng Parama-Jnana Suddha, ring Dalem ri heng, bhawa mwang laksana nira den apageh, awya tan prayatna kita, sapewretining ulah inarjanma maran rahayu, apan masengka yan ya kadalurung tiba maring ala, abhipraya waluya kena muwah kayeng nguni, kadyanganing wijilning jawa sanunggal, wut pinarah satus. lebokakna ring samudra, dahat masengkaniya, awali ya matemahan awiji muwah, mangkana kasuwening wong dosa, tiba ring mala kataman dhanda Anilapati, ewuh yan waliya rahayuniya, yan tan maka sihning Widhi juga.
Yan sira arep rahayu , kumwa ling Bhatara munggwing sastra yeki ta kayatna akna, age ta kita penahurana dhanda pati, atebas-tebasan kramaning penahuran, tingkah kadi pesakap-sakapan, angarepin sanggar klamulan, lwir bebanteniya : Panyegjegan asoroh, saha lanlanan guling pebangkit asoroh genep, mwang gelar sanga, bagya-sugih, sekar taman pula gembal, suci gede 2 soroh, daksina gede genep saupakaraning daksina dagingnya, sarwa pat-pat pangisianiya. Banten mungguh ring sanggah kemulan : suci gede asoroh, saha dandanan niya, prascita luiwih, rayunan putih kuning, iwak itik putih ginuling, sesayut limang warna, lwirnya : sesayut sambut urip, sesayut atma rawuh, sesayut pangeleburan mala, sesayut dirgayusa, sesayut sidapurna. Peras pengambyan, tulung metangga, tulung urip, pakekeh tadah sukla, pisang kembang, pisang jati, mwah sega butur metatakan priyuk anyar, berasniya galih sineruhan ping 11, misi we cendana, duk angratengin tingkah kadi angliwet sajining pitra. wusniya rateng unggahakna ring sanggar kamulan, tekeng priyukniya, mwang sangku sudhamala, misi toyo mautama 11 swahan, bija kuning, sekar warna 11, pada mungguh ring kamulan. mwah ngadegang sanggar tutuan, munggah banten ardhanareswari genep saupakaraning banten, lwire : pengadegan banten, daksina gede sarwa pat asiki, peras pengambiyan, lanlanan lis, suci gede putih kuning pada asiki,  suci pengatur paturwan 1, rayunan prangkatan putih kuning 2 pajeg, iwak itik ingolah, pajegan  suciniya maiawak itik ginuling, muwah maka duluraniya siwa-bawa, cucuk buhu, citro-gotro, citra-gotri, kembang pisang, puspa pejati, tadah sukla, dewa-dewi, prayascita luwih, sesayut sambut urip, atma rawuh, pbresihan wastra peradegan duwang pradeg, putih kuning, putih laki, wadhu kuning, canang tangkepan, we anakan sinadahan priyuk anyar, misi lalang pranawa 108, mwang lingga lalang, kusa wel mingmang 12 wiji, dadi asiji, sekar urik, tunjung putih kang utuh, ring areping tutuan pasang akna, pasang ikang pesaji-saji, mwang panebasan rateng mentah lwirnya : sajin pangon ; sega sagulung, iwaknya jejatah calon, balung katupang, beras catur warna. Sajin Sang Nila -paksi : antiga roro, dengdeng hati sasrepitan. Sajin Sang Asu Gaplong : sega sagulung, balung gagending. Sajin Semut - sagodel mwang ngos-ngosan : gula barak, nyuh sacukit. Sajin Widyadari : sarwa kembang, mwang subeng 108. Sajin Alas : sega sagulung, nasi angkep, taluh dadar, katipat akelan, iwak jatah, pesor akelan, iwak taluh, sega akepel, be  balung bolong tinutuping ceeng ulihan sacengkang  
 Bersambung............