Rabu, 14 Oktober 2015

CUNTAKA



Cuntaka adalah suatu keadaan yang tidak suci menurut pandangan agama Hindu, masa cuntaka khususnya dari kematian pada setiap daerah/desa tidaklah sama, semua itu tergantung dari kesepakatan bersama yang dibuat pada desa tersebut. Masa kotor atau yang populer disebut Cuntaka  istilah bahasa Bali-nya disebut Sebel, berkaitan dengan tata susila dan etika. Sebel sering dikaitkan dengan sebet, sebet adalah dimana pikiran yang membelenggu membuat diri kita menjadi tidak nyaman. Jika kita bisa memahami tentang hakekat diri bahwa perasaan itu yang selalu menghalangi setiap langkah yang kita lakukan maka hendaknya mulai mengembangkan pikiran yang positif/baik, sehingga perasaan sebet/sebel itu bisa kita hindari. Secara normatif sebel itu sudah dibuatkan standar oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia yang merujuk pada beberapa sumber sastra yang ada, namun setelah masuk ruang desa pekraman batasan/waktu yang telah dibuat oleh parisada mengalami sedikit perubahan sesuai dengan kesepakatan krama desa setempat, sehingga antar desa menetapkan masa cuntaka yang berbeda-beda. Cuntaka/kotor/sebel sering dihilangkan dengan jalan melukat/membersihkan diri, setelah memohon pengelukatan mereka merasakan bahwa cuntakanya telah hilang. Melukat itu tidak ada batasan waktunya, ada yang begitu merasa cuntaka langsung melaksanakan pengelukatan lalu perasaan cuntakanya hilang, ada lagi yang menunggu waktu atau batasan tertentu untuk melaksanakan pengelukatan, jadi jelas batasan cuntaka sulit sekali ditetapkan. Melukat adalah membersihkan diri, Sedangkan kebersihan dan kesehatan batin dapat diusahakan de­ngan jalan melaksanakan pranayama persembahyangan dan membaca serta mempelajari ajaran-ajaran agama secara terus-menerus seperti dijelaskan didalam Kitab Hukum Hindu Manawa Dharmasastra V. 109 :

ADBHIRGATRANI SUDDHYANTI MANAH SATYENA SUDDHYATI VIDYATAPOBHYAM BHUTÃTMA BUDDHIR JNANENA SUDDHYATI
      Tubuh dibersihkan dengan air.
Pikiran disucikan dengan kebenaran.
Jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata dan 
Kecerdasan dengan pengetahuan yang benar.
Masa cuntaka secara umum dapat digambarkan sebagai berikut        :

No.
Penyebabnya
Ruang lingkup
Batas waktu
1
Kematian
Keluarga terdekat sampai dengan mindon, serta orang- orang yang ikut mengantar jenazah, demikian pula alat- alat yang dipergunakan dalam keperluan itu
Disesuaikan dengan Loka dresta dan Sastra dresta.
2
Haid
Diri pribadi dengan kamar. tidurnya
Selama masih mengeluarkan darah sampai membersihkan diri.
3
Bersalin
Diri pribadi dan suaminya beserta rumah yang ditempatinya
Sekurang- kurangnya 42 hari dan berakhir setelah mendapat tirtha pabersihan dan suaminya sekurang- kurangnya sampai lepas puser bayinya.
4
Keguguran kandungan
Diri pribadi dan suami beserta rumah yang ditempatinya.
Sekurang- kurangnya 42 hari dan berakhir setelah mendapat tirtha pabersihan.
5
Sakit (kelainan)
Diri pribadi dan pakaiannya.

6
Perkawinan
Diri pribadi dan kamar tidurnya
Sampai dengan mendapat tirta pabeakaonan.
7
Gamya gamana (incest)
Diri pribadi yang melakukan dan desa  adatnya
Sampai diceraikan, diadakan pembersihan baik terhadap diri pribadi maupun desa adat/ kahyangan.
8
Salah timpal (bersetubuh dengan binatang)
Diri pribadi yang melakukan dan desa adatnya.
Diselesaikan sebagaimana mestinya sesuai dengan adat dan agama Hindu. Sampai dengan upakara beakaon.
9
Hamil tanpa beakaon
Diri pribadi dan kamar tidurnya.
Sampai dengan upakara beakaon.
10
Mitra ngalang
Diri pribadi dan kamar tidurnya.
Sampai dengan upakara beakaon.
11
Lahir dari kehamilan tanpa upacara
Diri pribadi, anak dan rumah yang ditempatinya.
Sampai dengan adanya yang memeras                                (disahkan sebagai anak sesuai dengan agama Hindu).
12
Melakukan Sad Tatayi
Diri pribadi.
Sampai diprayascita dan sama sekali tidak boleh menjadi rohaniawan.

 Seseorang yang dalam keadaan sebel atau cuntaka tidak diperkenankan memasuki tempat suci atau pun melaksanakan pekerjaan yang dianggap suci. 
Menurut Parasara Dharmasastra III.1-2 disebutkan  :

ATAH SUDHIM PRAVAKSYAMI JANANE MARANE TATHA,
DINE TRAYENA SUYANTI BRAHMANAH PRETA SUTAKE.
KSATRYO DVADASA HENA VAISYAH PANCADASA HAKAH,
SUDRAH SUDEYATI MASENA PARASARA VACO YATAHA.
Artinya :
Sekarang Aku akan menjelaskan tentang periode atau masa ketidaksucian seseorang yang berhubungan dengan kelahiran dan kematian (dari anggota keluarganya)
Masa kotor yang disebabkan oleh kelahiran atau kematian dalam keluarga, bagi kaum brahmana selama 3 hari, bagi ksatrya 12 hari, bagi vaisya 15 hari dan bagi sudra 30 hari, seperti yang ditetapkan oleh yang suci Parasara.
Keterangan : masing-masing golongan masyarakat lama masa kotor berbeda disebabkan karena tingkat kemampuan menyunyikan diri berbeda bagi golongan yang satu dengan golongan yang lainya, misalkan 
  • seorang Brahmana jauh lebih mampu menyucikan dirinya dibandingkan dengan seorang sudra.
  • selain itu pula seorang Brahmana memliki kewajiban yang lebih penting dari pada yang lainya, siapa yang akan menyelesaikan sebuah upacara atau perayaan korban suci jika seorang brahmana atau pendeta terlalu lama cuntaka (tidak suci)? 
  • bahkan terkadang seorang brahmana tidak dipengaruhi oleh cuntaka. Demikian juga halnya dengan Ksatrya yang memiliki kewajiban yang lebih berat daripada vaisya dan sudra, sehingga lama cuntaka lebih singkat.
  • Dalam lontar Widhisastra disebutkan apabila pada saat piodalan ada krama yang meninggal dunia,hendaknya upacara piodalan diselesaikan dulu,setelah selesai baru kita melaksanakan upacara kematian baik dikubur maupun di lakukan upacara ngaben, agar konsentrasi umat tidak bingung dan terpecah, dalam lontar pelutuk bebanten apabila sang mati belum diperciki tirtha pangringkesan belumlah dianggap mati, sering diistilahkan dengan ditidurkan.
  • Kaletehan / cuntaka yang dipancarkan sawa mendiang diblokir saat upacara ngaben yang dengan menggunakan damar kurung sebagai sarana permohonan kepada Sanghyang Agni agar cuntaka berkurang.
Susila yang merupakan tata nilai tentang baik dan buruk (bukan salah dan benar), apa yang harus dikerjakan dan apa pula yang harus dihindari sehingga tercipta suatu tatanan antar manusia dalam masyarakat yang dianggap serasi, baik rukun dan bermanfaat bagi setiap orang.
Di samping itu tentu kebersihan badan, pakaian dan sikap badan setiap bekerja harus pula tidak diabaikan. 
Yang menjadi pertanyaan, Faktor apakah yang menyebabkan seseorang tidak suci (cuntaka) dan apa pula yang patut dilakukan .untuk memulihkan keadaan menjadi normal kembali? 
Menurut Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu yang disahkan Parisada Hindu Dharma (PHDI), diatur dalam Lontar Catur Cuntaka, merupakan pengembangan lebih jauh tentang aturan kesucian yang ditetapkan a.l. dalam Weda Parikrama.
Kutipan dari  StitiDharma Online
Aturan tentang Cuntaka juga mengandung pengertian yang mendalam bahwa manusia dalam mewujudkan bhaktinya kepada Tuhan mempunyai dua aspek yang penting yakni aspek vertikal (hubungan dengan Yang Maha Kuasa) dan aspek horizontal (hubungan dengan sesama umat manusia) Kedua aspek itu dijaga keseimbangan dan keharmonisannya. Mereka yang cuntaka diharap tidak mengganggu konsentrasi persembahyangan warga yang lain ditempat-tempat persembahyangan umum. Namun kalau ia bersembahyang sendiri di kamar tidur/tempat khusus, tidak dilarang. 
Harap dibedakan antara cuntaka dan sembahyang. Maksud saya, dalam keadaan cuntaka kita boleh bersembahyang. Misalnya dikuburanpun kita sembahyang bila mengadakan upacara mendem layon, ngeseng/membakar, dll. Namun dalam keadaan cuntaka kita tidak bersembahyang di Pura-Pura umum, karena menghormati pemedek lainnya. Jadi dalam pendakian spiritual ada pengertian vertikal dan horizontal. Maksud saya, vertikal, yakni bhakti kepada-Nya, dan horizontal maksudnya membina keharmonisan dengan sesama. Kita tidak boleh hanya memperhatikan masalah vertikal saja lalu mengabaikan hal-hal yang bersifat horizontal. Dalam bahasa Bali umumnya rangkaian itu disebut : desa – kala – patra.

Beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan :

1. Jika pikiran kotor, iri hati, dendam,congkak dan selingkuh
apakah itu termasuk dalam bagian cuntake??
2. Jika memang bagian dari cuntake, apakah hal hal tersebut lebih
tinggi nilai cuntakenya dari orang meninggal, wanita haid?
3. Kenapa wanita melahirkan selama 42 hari dibilang cuntake?

Jawaban :

1. Devinisi “Cuntaka” yang diputuskan dalam Paruman Sulinggih PHDI berbunyi sbb. : Cuntaka adalah keadaan tidak suci menurut keyakinan Agama Hindu.
Perlu dibahas dan ditafsirkan sebagai berikut :
a. “Keadaan” dapat dikatakan secara sklala (kasat mata) dan niskala (tidak kasat mata) Tentang yang kasat mata (nyata) misalnya kematian, menstruasi, bayi belum 3 bulanan, kawin belum mabeajkala, kawin salah timpal, kawin gamia-gamana, mitra ngalang, paradara, sakit gede, dll. Tentang yang niskala (tidak kasat mata – tidak nyata) misalnya pikiran, khayalan, dll.
b. “Tidak suci” artinya menyimpang dari ajaran kitab suci Weda, Upaweda, Pancami Weda, Wedangga, dll. Termasuk menyimpang adalah pelanggaran trikaya parisudha yakni pikiran, perkataan, dan perbuatan yang dilarang Agama HIndu.

Sebagaimana yang diketahui, Pikiran yang dilarang/tidak suci :

a. Dilarang menginginkan milik orang lain,
b. Dilarang tidak percaya pada hukum karma-phala,
c. Dilarang tidak menyayangi mahluk hidup lain.

Yang dimaksud “Perkataan yang tidak suci/dilarang :

a. Berkata-kata kasar, memaki, menghina,
b. Berkata-kata bohong/membual,
c. Wajib taat pada janji/ucapan – tidak berkata lain dari pikiran yang ada.
d. Dilarang memfitnah.

 Yang dimaksud “Perbuatan”yang dilarang :

 a. Mencuri,
 b. Memperkosa/berzinah,
 c. Himsa-karma (tidak membunuh atau menyakiti mahluk hidup)
Selain itu ada larangan-larangan yang lain yang diatur dalam yama brata dan niyama brata, sapta timira, dasamala, dll. yang merupakan pengembangan dari trikaya parisudha itu.
2. Tinggi/rendahnya tingkatan cuntaka, tidak bisa diputuskan oleh manusia, karena “keadaan tidak suci” hanya dinilai/diukur oleh Yang Maha Esa.
3. Karena dalam waktu 42 hari biasanya wanita masih kotor (mengeluarkan kotoran dari vagina) dan organ perut mulai rahim sampai susunan organ lainnya belum pulih seperti sediakala (sebelum hamil)
Demikianlah Pengertian dan makna Cuntaka yang tiang himpun dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

Senin, 21 September 2015

LONTAR PANCA DURGHA



PANCA DURGA
Om Awignam Astu Nama Sidham
Tucapa betara guru malih menget ri wekasan dangu-dangu kametryanira ana mangke katekeng krodha angawa asamana apa bhatari Uma, matemahan Panca Durgha, melik pwa sira ri gatranira kaya-kaya tan mengawas kunang bhuana, lawan sarira, meneng sinapa anggan Ida Betara Guru, matemahan Kala Rudra Maya Rupa, lumaku ta sira mahaseng desantara, menget ungguwan nira bhatari Durgha,  kapanggih Sri Parwati panca rupa, ri madyaning pancaka panca desa unggwanira, Sri Durgha ring purwa, Raji Durgha ring utara, Suksmi Durgha ring pascima, Gori Durgha ring daksina, Dewi Durgha ring madya. Malecita pwa sira, pada agwah nika lima, arep angawe tumpur agung, rumasa aneng wisya mandi, jeg dateng Bhatara Kala Rudra, manembah pwa sira Panca Durgha, prasama sanjatanira irika Sri Bhatari Durgha ngadaaken kalika-kaliku, yaksa-yaksi, dengen, spah, kubanda, Bhatari Raji Durgha angadakaken Pemali, jin, Jukih, Setan, Bregala-bregali, Bhatari Suksmi Durgha angadakaken Sampulung, Pemala-pemali, Karaseta, Bhatari Gori Durgha angadakaken Preta, sajer, Bhuta Kapiragan, Bhatari Maya Dewi Durgha angadakaken Panca Bhuta, Bhuta Jangitan, Bhuta Langkir, Bhuta Lembukane, Bhuta Taruna, Bhuta Tiga Sakti, mangkana kalingania. Iki sma sane wenang ingaranan pancaka, apan unggwanira Bhatari Panca Durgha, saha ardhanareswari,mwang Bhatara Kala Rudra, laju maha  sireng  catus pata mesangga ta mwah, sira angadakaken catur bhuta, Sang Dremba Moha, Sang Kala Ngadang, Sang Kala Wingsa, Sang Kala Katung, lagi sira tumareng salwa agung pinalih aranira bhatari Durgha maka ngaran SAng Kalika Maya, Bhatara Kala Rudra maka ngaran Sang Juti Srana, masangga ta sireng kane, mijil sang Kala Tiga, makadi Sang Butha Raja, Sang Kala Putih, Sang Kala Bang, Sang Kala Kuning, Sang Kala Ireng, lawan Sang Butha Pelung, Sang Buta Dadu, Sang Buta Kwanta, Sang Buta Ijo, mwah Sang Buta Swat, Bhuta Walangkik, mwang Buta Sanjaya, akweh yan wutusan, asuya ta angan-angen Sang Hyang Tri Semaya, ilampah ira Bhatara Guru, winastung ganira matemahan Kala Rudra Krura Rupa, malecita pwa sira ka tiga, maka nimita somyo rupa Bhatara Guru, maluya jati sira, angringgit rakwa sira walulang tinatah nira mintonaken maya rupan Bhatara Guru, lawan dewata kabeh, mwang Sang Hyang Kala Nucara, ginreti ta maya Bhatari, itlas mangkana umahas Sang Sang Hyang Tri Semaya, mamet unggwanira sang sasuhunan, amurungaken anadah manusa, kapanggih Sang Hyang Kala Rusra aronrowan lawan bhatari, maswana ring salwa agung mapanjang bhatara kala mrudra maka kama Sang Joti Srana, Bhatari Durgha maka kama Sang Kalika Maya mangko gopita bhatara-bhatari. Warah Sang Hyang Tri Semaya lumaris mareng Sri Bhatari Pati, majar aken lampah sira sang sasuhunan, kinon Sri Aji galuh mangarpabaken sajinira ikang caru panca sya, mwang rah dagingnya tasak mentah, gegantalan asem, carbaka mwang mula pala, pinuja de sang maha sakti ta, maka pala tan rahganing negareng Galuh, teka mpira Sang Kala Rudra sira nimintaning ana caru ring Jawa Dwipa, misinggih Sri Bhatari Pati, kadi ling Bhatara Tiga, kunang cihnaning sang ratu subala wirya, Tan wilambita humadang pada swaha Bhagawan Sida Yoga, manggalaning Panca sya nira. Pinten lwirnya sinasar ring lemah, ri arepaning salwa agung ginaweaken panggung Sang Hyang Tri Semaya, kumenekaken klir, ni ngewayang Bhatara Iswara Udipan rikaaksi de Sang Brahma, Wisnu, ginawe aken dening idep kecapi, rika rwan pemanjang mwang gula ganti, sinambening langon-langon, winayaaken lampah Bhatara kalih, Sang Hyang Kala Rudra lawan Bhatari Panca Durgha, sira purwakaning ana ringgit ring yawa mandala tinonton ri wong kabeh, somya ta ambek bhatara Guru mulati lelakon Sang Hyang ISwara, kinon pwa kang bhuta kabeh mamukti caru, merang pwa sira bhatara bhatari, sampun tinanggepan Panca sya Sri Bhatari, irika wadwa carunira kabeh, salwiring bhuuta kala dengen mewareg-waregan, pada somya rupa tan wanira ambek irsya. dinulur kesaktining japa mantra nira sang Rsi Sida Yoga, sinanghara tang sarwa bhuta kinon mantuk ring sunyanta, waluya siwa jati rupa, mintar Sang Hyang Kala Rudra mwang dewi nira, kairing wadwa carakanira sedaya.
Mwah ana pamanggahan kidul wetaning negara Galuh Sma Kaliasem ngaranya, patampuhing pamasaran sawaning mwang mati salo ring gunung lawan wetaning gunung, irika ta unggwan Bhatari Durgha lawan sang Hyang Kala Rudra kawasita de Sang Hyang Tri Semaya mareng Sri Bhatari Pati, mwang sira mangutus ngarpana aken tawah sajinira kayeng lagi, mwah rah daging sarwa mangsa, saha panggungning mangwayang mwah ngeringgit sang Hyang Iswara, tumuturaken lampah bhatara nguni, tan dya somya cita bhatara Kala Rudra maluya sira rupa, mintar pwa sira umagil ring wana dusun-dusun, tinuhu de bhatara Tri Semaya, magawe pwa sira men-men, Bhatara Iswara dadi Swari, Bhatara Brahma dadi peret, Bhatara Wisnu dadi tkes, tumandang angigel sira, angidung manganda gina, lagya tumuturaken lampah Bhatara Guru nguni, mwah somya cita Bhatara Kala Rudra endah suksma sira mantukeng siwa loka waluya Bhatara Guru sira. Endah parama garjita angen-angen sira Bhatara Tri Semaya, maka palang jrambana kriyanira, sira nimitaning ana wayang, mwang men-men, nguni katkeng mangke. Kunang Bhatari Panca Durgha kari aneng sma gana kaliasem, sarwa baksa sira, kairing bhuta kala kabeh pada naramangsa, nitya kala sukan-sukan, ametwaken maha berawa. endah heneng akna kaka skareng.