Senin, 14 September 2015

TRI DALAM AGAMA HINDU



Tri Sadhaka ; Tiga macam pandita dalam agama hindu  :
-         Pandita Siwa
-         Pandita Bhuda
-         Pandita Bhujangga

Tri Aksara ; Huruf suci Agama Hindu, masing-masing berbunyi, Ang : Brahma, Ung : Wisnu, Mang : Ciwa.

Tri Agni : Tiga macam api ditinjau dari fungsinya, yaitu :
  • Ahawaniyagni : Api untuk memasak di dapur.
  • Grahaspatyagni : Api yang dipergunakan upacara perkawinan sebagai saksi.
  • Citagni atau Daksinagni : Api yang dipergunakan untuk membakar mayat.
 
Tri Antah Karana ; Tiga unsur penyebab yang mempengaruhi diri kita, yaitu, Manas : Alam pikiran, Budhi : Kebijaksanaan, Ahangkara : Keangkuhan atau egois.

Tri Antah Karana ; Ada tiga sumber yang ada dalam dimana Brahma atau Tuhan menciptakan:
  • Tri pramana : Bayu, Sabda, Idep, 
  • Tri Purush : Parama Ciwa, Sada Ciwa, Ciwa, 
  • Tri antah Karana : Manah, Budhi, Ahangkara, 
  • Tri Guna : Sattwam, Rajah, Tamah, 
  • Sanghyang Tri Windu : Sakala, Niskala, Suniata, 
  • Sanghyang Dapur Tiga : Surya, Candra Lintang, Tranggana.
Tri Bhoga ; Tiga macam kebutuhan hidup, yaitu : 
  • Bhoga : Pemenuhan kebutuhan makan dan minum.
  • Upa Bhoga : Pemenuhan akan kebutuhan sandang (pakaian).
  • Pari Bhoga : Pemenuhan akan kebutuhan rumah tangga dan perabot-perabotannya.
Tri Capala : Tiga macam kedurhakaan, seperti :
  • Wak Capala : Durhaka kepada orang tua dengan mempergunakan kata-kata, seperti memaki, mencaci dan sebagainya.
  • Hasta Capala : Durhaka kepada orang tua dengan mempergunakan tangan, misalnya memukul, menampar dan lain sebagainya.
  • Pada Capala : Durhaka kepada orang tua dengan mempergunakan kaki, misalnya menyepak, menendang, nanjung aji batis, dan sebagainya.
Tri Danti : Tiga pengekangan diri.
  • Manah : Pikiran harus dikendalikan agar tidak menyimpang dari Dharma.
  • Wak : Kata-kata hendaknya selalu sopan santun dan berlandaskan kebenaran.
  • Kaya : Perbuatan. Segala tindak tanduk menyenangkan orang lain, karena bersumber pada hukum dan atauran Negara maupun Agama Hindu.
Tri Datu Catur : Jalinan benang tiga warna, merah, putih, hitam dipergunakan untuk mengikat daun dadap, ujung pohon dadap, padang lepas masing-masing 3 buah yang terdapat di amel-amel, yaitu bagian dari upakara Byakaonan.

Trayo Dasa Saksi : Ada tiga belas saksi yang mengikuti segala gerak langkah kita, sehingga tidak mudah untuk berbohong terhadap Sang Hyang Widhi, yaitu :
  • Aditya : Surya (matahari)
  • Candra : Sasi (bulan)
  • Anila : Bayu (angin)
  • Agni : Api
  • Pretiwi : Tanah
  • Apah : Toya (air)
  • Akasa : Langit
  • Atma : Sang Hyang Dharma
  • Yama : Sabda (suara)
  • Ahas : Rahina (siang)
  • Ratri : Wengi (malam)
  • Sandhya : Senja (sore)
  • Dwaya : Semeng (pagi)

Tri Guru  : Tiga guru. Dalam hal ini dimaksudkan ada tiga komponen selaku pendidik, yaitu :
  • Guru Rupaka : Orang tua (ayah dan ibu).
  • Guru Pengajian : Para pendidik atau guru disekolah.
  • Guru Wisesa : Pemerintah.
 Tri Guna : Tiga dasar sifat manusia, ialah :
  • Sattwam : Adil dan bijaksana.
  • Rajah : Aktif dan dinamis.
  • Tamah : Malas dan lamban.
 Tri Hita Karana : Tiga sumber yang mendatangkan keselamatan atau kebaikan, yaitu :
  • Parahyangan : Tempat Suci.
  • Palemahan : Wilayah.
  • Pawongan : Penduduk.
Tri Kaya Parisudha : Tiga gerak atau perbuatan yang suci, ialah :
  • Manacika : Pikiran suci.
  • Wacika : Kata-kata benar.
  • Kayika : Perbuatan yang baik dan terpuji.
Tri Kahyangan : Tiga tempat suci. Di masing-masing desa umat Hindu di Bali terdapat Tri Kahyangan, yaitu :
  • Pura Puseh : Tempat memuja Batara Wisnu, manifestasi Ida Sanghyang Widhi sebagai pemelihara (sthiti).
  • Pura Desa atau Bale Agung : Tempat memuja Batara Brahma, manifestasi Ida Sanghyang Widhi, sebagai pencipta (Utpati).
  • Pura Dalem : Tempat memuja Batara Ciwa sebagai pelebur (pralina)
Tri Kona : Lukisan segitiga, lambang siklus Utpani, Sthtiti, Pralina.
Tri Loka : Tiga lapis alam, yaitu :
  • Bhurh Loka : Alam manusia.
  • Bhwah Loka : Alam pitara.
  • Swah Loka : Alam Dewa-dewa. 
Tri Murti : Tiga perwujudan atau kekuatan merupakan manifestasi Ida Sanghyang Widhi, yaitu :
  • Brahma : Pencipta.
  • Wisnu : Pemelihara
  • Ciwa : Pelebur atau Pemrelina.
Tri Mala Paksa : Tiga hal yang tercela, yaitu : Pikiran kotor, Kata-kata buruk dan Perbuatan jahat.
Tri Mandala : Tiga wilayah. Bila dalam kaitannya dengan pekarangan perumahan dibagi tiga wilayah, yaitu :
  • Utama Mandala : Di wilayah ini dibangun bangunan suci, misalnya Pamerajan, Sanggah.
  • Madya Mandala : Di wilayah ini sebagai tempat penghuni keluarga.
  • Nista Mandala : Di wilayah ini dibangun kandang ternak dan lain-lain.
Tri Nayaka : Tiga jenis olahan pelengkap upakara Caru, yaitu :
  • Sate Lembat : bahannya daging, kelapa diparut diisi bumbu lalu dipanggang.
  • Sate Asem : bahannya isi perut ayam (bahan) yang digunakan, setelah dipotong-potong lalu ditusuk kemudian digoreng.
  • Calon : dibuat daging hewan yang digunakan Caru setelah dilumatkan kemudian diisi bumbu, dibuat bulat-bulat seperti kelereng lalu digoreng.
Tri Nadi : Tiga saluran yang terdapat pada tubuh kita, yaitu : Saluran makanan, Saluran Nafas dan Saluran air.

Tri Semaya : Tiga kurun waktu yang biasa dipergunakan untuk menilai keadaan atau situasi sehingga tercapai suatu kesimpulan, yaitu :
  • Atita : Kurun waktu yang lampau.
  • Anagata : Kurun waktu yang akan datang.
  • Warthamana : Kurun waktu yang sekarang. 
Tri Parartha : Tiga tata cara dalam mencapai tujuan hidup, terutama Tri Bhoga, agar mendapat restu dari Tuhan, yaitu :
  • Asih : Sayang sesama hidup seperti menyayangi diri sendiri.
  • Punia : Memberikan dana dengan tulus ikhlas kepada orang lain yang memerlukan.
  • Bhakti : Cinta kasih dan sujud bakti kepada Ida Sanghyang Widhi dengan melakukan sembahyang.
Tri Pramana : Tiga cara memperoleh pengetahuan, antara lain :
  • Agama Pramana : Percaya berdasarkan keterangan orang-orang suci.
  • Anumana Pramana : Percaya dengan menarik kesimpulan dari adanya tanda-tanda.
  • Pratyaksa Pramana : Percaya berdasarkan kenyataan.
Tri Pramana : Tiga ukuran atau pedoman untuk memberikan penilaian keserasian, yaitu : Desa, Kala dan Patra.

Tri Pramana : Tiga tenaga atau kekuatan :
  • Bayu : Tenaga, kekuatan yang dimiliki tumbuh-tumbuhan.
  • Sabda : Suara, Bayu dan Sabda dimiliki oleh binatang.
  • Idep : Pikiran, Bayu, Sabda dan Idep dimiliki oleh manusia.
Tri Pramana : Tiga ukuran atau perhitungan atau persyaratan, untuk menangani suatu masalah, yaitu :
  • Bukti : Berupa barang yang dapat dilihat.
  • Saksi : Orang melihat secara langsung.
  • Likhita : Berupa transaksi.
Tri Purusa : Ida Sanghyang Widhi dalam 3 keadaan dan dalam masing-masing keadaan Beliau mempunyai nama, yaitu :
  • Parama Ciwa : Ida Sanghyang Widhi dalam keadaan tenang tanpa aktivitas, tidak kena pengaruh maya.
  • Sada Ciwa : Ida Sanghyang Widhi mulai berfungsi, sehingga kena imbas maya, tetapi masih suci murni.
  • Ciwa : Ida Sanghyang Widhi lebih aktif lagi, sehingga lebih banyak kena dipengaruhi maya dan kena pengaruh lupa.
Tri Purusha Artha : Tiga unsur yang amat penting yang harus dimiliki setiap orang sebagai landasan mencapai tujuan hidup, yaitu :
  • Dharma : Ilmu kesucian.
  • Artha : Harta benda atau kekayaan.
  • Kama : Kesenangan.
Tri Rna : Tiga jenis hutang, menurut kepercayaan, manusia lahir mempunyai hutang terhadap :
  • Dewa Rna : Hutang jiwa terhadap Ida Sanghyang Widhi.
  • Pitra Rna : Hutang jasa kepada leluhur.
  • Rsi Rna : Hutang Ilmu Pengetahuan kepada para Rsi atau pendidik.
Tri Sakti : Tiga kekuatan Tuhan, yaitu :
  • Utpati : Kekuatan Tuhan menciptakan segala isi alam baik yang nyata maupun tak nyata.
  • Sthiti : Kekuatan Tuhan memelihara semua ciptaan-Nya.
  • Pralina : Kekuatan Tuhan melebur atau memusnahkan semua ciptaan-Nya.
Tri Sandhya : Sembahyang Tiga Kali dalam sehari, yaitu : Pagi waktu matahari baru terbit, Tengah hari waktu matahari tepat diatas kepala dan Senja hari waktu matahari menjelang terbenam.

Tri Sula : Nama senjata yang mempunyai tiga sudut, dan di masing-masing ujungnya ada bagian yang runcing, dimiliki Batara Sambhu yang menjaga alam Timur Laut. 

Tri Sadaka : Tiga Pandita, yang berasal dari tiga golongan atau warna, yaitu :
  • Pandita Ciwa
  • Pandita Budha
  • Pandita Sengguhu atau Bujangga Wesnawa. 
Tri Pitaka : Nama kitab Suci agama Budha, ditulis dalam jaman Asoka, kira-kira 2500 tahun yang lalu.

Tri Ratna : Tiga lembaga utama, dalam ilmu Negara Hindu, yaitu :
  • Sapta Prabhu : Badan Legislatif.
  • Sapta Mantri : Badan Eksekutif.
  • Sapta Upati : Badan Yudikatif.

Tri Tunggal : Tiga buah huruf Suci merupakan perlambang, terdiri dari : A-U-M, kemudian dipadukan menjadi : AUM diucapkan OM yang mengandung arti Tuhan Yang Maha Esa.
  • A : Mengiaskan materi asli atau Prekrti.
  • AU : Mengiaskan jiwa individual
  • AUM (OM) : Mengiaskan Diri Tertinggi yaitu Brahman.
Trijata : Putri sang Wibisana yang mengawal Dewi Sita waktu berada di Alengka. Trijata juga merupakan semacam tumbuh-tumbuhan.

Tri Wikrama : Wisnu sebagai penguasa tiga dunia.

Tri Dhrti : Tiga macam ketetapan, dalam melatih Yoga melalui :
  • Sattwika Dhrti : Orang dapat menguasai budhi, nafas vital, fungsi alat-alat pengamatan dan aksi. Dhrti itu tak pernah menyimpang dari obyeknya.
  • Rajasa Dhrti : Adalah yang membantu seseorang untuk mencapai Dharma, Artha dan Kama, yaitu pemuasan keinginan dan kekayaan.
  • Tamasa Dhrti : Adalah yang mengantar pada impian, ketakutan, kesedihan, perasaan kegagalan dan kemabukan.
Tri Jata ; Lahir tiga kali, yaitu :
  • Ekajati : Lahirnya seseorang dari rahim sang ibu (walaka) yang dianggap sama dengan Sudra.
  • Dwijati : Seorang Walaka yang sudah diupacarai yang disebut Upayana, lalu ia dikenal sebagai Brahmacari. Setelah memenuhi syarat lagi diberi upacara Samawartana.
  • Trijati : Orang yang sudah didiksa, setelah melaksanakan Nirwrti Marga atau Prawrti Marga, agar Diksa menjadi sempurna. Gelas yang diperoleh ialah Krtta Diksita.
Tri Upaya Sandhi : Seorang raja harus memiliki 3 upaya untuk menghubungkan dirinya dengan rakyat, yaitu :
  • Rupa : Seorang raja harus mengamati wajah rakyatnya, karena roman muka dapat menggambarkan keadaan batin, apakah ia sedang bahagia atau sedang kesusahan.
  • Wangsa : Raja harus mengetahui susunan masyarakatnya (stratifikasi sosial) karena hal tersebut akan memudahkan dirinya menentukan sistem pendekatan kepada rakyatnya.
  • Guna : Raja harus mengetahui tingkat pengetahuan dan ketrampilan (akal) anggota masyarakatnya.
Tri Sakti : Ada tiga sifat dari Tri Sakti, masing-masing sebagai berikut :
  • Sakti Dharma : ialah yang ditimbulkan guna Sattwam, berupa ketenangan, kesabaran, keadilan dan memiliki perikemanusiaan.
  • Sakti Kama : ialah pancaran sifat yang ditimbulkan oleh guna Rajas, berupa geraj lincah penuh emosi dan dapat mengantar orang ke puncak kesuksesan.
  • Sakti Artha : ialah pancaran sifat yang ditimbulkan oleh guna Tamas, berupa gerak lamban, malas ingin enaknya saja.

Tri Sinangguh Tua : Ada tiga anggapan sebagai orang yang dituakan, yaitu : Tua dari segi hubungan keluarga, Tua dari segi umur, dan Tua karena pengetahuan dan kedudukan.

Tri Sadana : Ada tiga macam pemberian pertolongan, yaitu :
  • Artha Dana : pemberian berupa material.
  • Brahma Dana : Pemberian berupa pengetahuan, seperti nasihat-nasihat.
  • Bayu Dana : pemberian bantuan berupa tenaga.
Tri Mala : Tiga hal yang dianggap kurang baik, yaitu :
  • Kayangan : Tidak percaya dengan orang kerawuhan (kesurupan).
  • Ketayan : Tidak percaya, selain yang di ketahui. Bahasa Bali : Mula keto, suba nami (memang begitu, sudah merupakan warisan).
  • Kemayan : Tidak percaya dengan impian.
Tri Mala : Tiga hal yang dianggap kurang baik, karena menimbulkan penderitaan, yaitu :
  • Artha : Harta benda atau materi juga bisa menimbulkan penderitaan.
  • Kama : Kesenangan yang berlebihan juga bisa menimbulkan penderitaan.
  • Sabda : Kata-katapun bila kurang dikendalikan bisa juga menimbulkan penderitaan.
Dewi Tri Purusa : Ada tiga sumber sakti yang merupakan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi yang menguasai dan mengatur :
  • Dewi Saraswati yang menguasai dan mengatur Ilmu Pengetahuan untuk pemenuhan jiwa.
  • Bhatari Sri yang menguasai dan mengatur sandang dan pangan untuk pemenuhan jasmani atau fisik.
  • Bhatari Sadhana yang menguasai dan mengatur sandang, papan untuk pemenuhan jasmani.
Tri Kaya Paramatha : Ada tiga kekuatan untuk mengalahkan Sadripu (Sadwarga) yaitu :Kayika : Perbuatan yang baik atau terpuji.
  • Manacika : Pikiran suci
  • Wacika : Kata-kata yang benar.
Tri Sarira : Ada tiga badan yang dianggap orang tua atau ayah yaitu :
  • Carirakrt : Yang mengadakan.
  • Pranadata : Yang memberi jiwa
  • Annadata : Yang memberi makan minum (memelihara)
Tri Hetu : Tiga penyebab. Segala sesuatu yang kita kenal melalui indriya selalu berdasarkan atas sebab-sebab (hetu-hetu) yaitu :
  • Upadana-Karana : Adalah sebab-sebab material, misalnya ; sebab ada kain ialah disebabkan ada benang, benang disebabkan adanya kapas, dan seterusnya, hingga sampai pada penyebab utama adalah Tuhan.
  • Asamavayi-Karana : Adanya sebab formil, misalnya, sebabnya ada kain ialah benang-benang, benang disebabkan adanya pintalan kapas dan seterusnya hingga timbullah kesimpulan (anumana) adanya Tuhan.
Tri Manggala Yadnya : Ada tiga komponen penting yang menentukan sukses tidaknya suatu yadnya, yaitu :
  • Sadaka : Pendeta atau Pemangku yang akan memimpin atau melaksanakan upacara.
  • Mancagra : Srati yang membuat banten upacara.
  • Yajamana : Yang memiliki yadnya.
Tri Wara : Hari pasaran terdiri dari tiga hari, yaitu :
  • Pasah : Dora. Dewanya Sanghyang Cika, Urip / neptu (9).
  • Beteng : Wahya. Dewanya Sanghyang Wacika, Urip / neptu (4)
  • Kajeng : Biyantara. Dewanya Sanghyang Manacika, Urip / neptu (7)

Selasa, 01 September 2015

TATTWANING LULUT




Lulut adalah sebangsa binatang-binatang kecil sejenis ulat yang besarnya hampir sama dengan ulat cempedak, akan tetapi kelihatannya sangat aneh. Keanehan ini bila pada suatu tempat ia muncul pasti akan saling berkaitan satu dengan yang lainnya, apalagi disaat akan berpindah tempat . Ulat yang aneh dan muncul di tanah begitu banyaknya itulah oleh masyarakat/umat hindu disebut dengan lulut. Jika sudah tampak adanya lulut disuatu tempat maka umat hindu/warga masyarakat akan mengadakan ritual pembersihan sekala dan niskala.
Untuk memahami tengtang Tattwaning Lulut maka perlu kiranya kita simak dulu cerita sebagai berikut ; "Dahulu kala dua orang penghuni kahyangan yakni I Gudug Pasu dan I Bawi Srenggi suatu ketika mereka mendengar berita bahwa seorang dewi penghuni sorga yang namanya Betari Sri adalah satu-satunya putri yang paling cantik di seluruh sorga loka. mendengar berita itu kedua rsenggana itu sangat tertarik hatinya untuk mempersunting  Betari Sri. I Gudug Pasu dan I Bawi Srenggi yang sama-sama citi-citanya untuk mempersunting betari tiba -tiba suatu saat bertemu. I Gudug Pasu berkata "Saudaraku Bawi Srenggi, aku tahu yang ada dalam hatimu, setelah kita mendengar tentang kecantikan dewi Sri, apa yang hendak kau lakukan aku tahu semua, akupun akan melakukan seperti yang kau pikirkan, jelas akan mempersunting Dewi Sri". Bawi Srenggi menjawab," Dewi Sri hanya seorang diri, sedangkan yang menghendaki kita berdua, lalu bagaimana kita harus bertindak?" Gudug Pasu menjawab, "Kita sama-sama penghuni sorga loka hendaknya jangan sampai dihadapan Betari Sri kita bertengkar, kita harus tetap menjaga mutu kedewataan kita, menurut hematku dalam hal ini hanya ada satu jalan yakni salah satu dari kita harus hidup, untuk tujuan itu tiada lain lagi kecuali kita berperang".
I Bawi Srenggi setelah mendengar kata-kata I Gudug Pasu seperti itu segera mengambil sikap, "aku juga menginginkan seperti itu, ayo mulailah kita berperang". Benar saja perang dimulai, makin lama makin bertambah hebatnya, sentuhan senjata sangat membisingkan, api yang timbul akibat sentuhan senjata itu bagaikan kilat yang membelah dunia. Bila mereka payah menggunakan senjata maka mereka saling bergerumul berpelukan saling membanting dan siap akan menghempaskan ke bumi. Begitu hebat perangnya, sedikitpun pada sekujur tubuh mereka tiada bekas yang tergores senjata, selama mereka bertempur telah beberapa kali mereka berhenti karena lelahnya. Akhirnya peperangan itu mereka hentikan karena mereka sama-sama yakin bila diteruskan tiada berakhir kalah atau menang.
Setelah peperangan terhenti I Gudug Pasu lalu berkata "Saudaraku Bawi Srenggi, oleh karena tujuan kita tidak tercapai hidup seorang diri untuk mempersunting Betari Sri, maka marilah kita pergi ke tempat tinggal Betari Sri, akan tetapi menurut hematku kepergian kita kesana hendaknya berbagi arah, kamu aku minta melewati arah barat laut dan aku sendiri menuju ke timur laut". Demikianlah perjanjian mereka berdua sama-sama saling mentaatinya.
Entah berapa lama dalam perjalanannya akhirnya I Gudug Pasu yang mengambil arah timur laut berjumpa dengan Dewa Siwa, kepada Dewa Siwa dia menjelaskan apa yang hendak menjadi tujuan sehingga sampai pada tempat itu. Dewa Siwa memahami maksud dan tujuan I Gudug Pasu dan segera menjawab, "Ya kalau itu yang kamu maksudkan, memang benar ku akui kecantikan dan keagungan dewi Sri tiada tanding di sorga loka, namun sayang Dewi Sri kini tidak lagi tinggal disini, ia telah turun ke dunia bersama kakaknya betara Rambut Sedana untuk menguasai dunia dan memberikan kesuburan semesta. begitulah halnya sekarang terserah kamu". I Gudug Pasu setelah mendengar sabda Dewa Siwa seperti itu segera mohon diri untuk meneruskan perjalanan dalam mencari dewi sri.
Kini tersebutlah seorang Raja yang berkuasa pada sebuah negara yang bernama Maninte, raja ini mimpi jelas bahwa Betari Sri turun ke dunia dan kini sedang berada pada daerah kekuasaanya, namun entah dimana tempatnya. Dengan alasan inilah akhirnya beliau segera memanggil seluruh rakyatnya untuk segera berkumpul dan dimintai penjelasan, tetapi malang semua rakyat tidak ada yang tahu dimana dewi Sri berada, akhirnya sang raja meminta kepada seluruh rakyatnya untuk mencari Dewi Sri dimanapun tempatnya.
Betari Sri kini dalam perjalanan menuju dunia, sampailah beliau pada perbatasan negara  yang menjadi kekuasaan raja Maninte. Perjalanan Betari Sri diiringi oleh abdinya yang setia Ni Sri Tekong (Keladi) dan Ni Sri Kuncung (Jagung). Tiba-tiba Betari Sri terkejut setelah mendengar dan melihat begitu banyaknya orang yang datang, mereka hampir mendekati betari. Dengan tidak berpikir panjang beliau segera menghilang darim tempat itu bersama kakak dan abdinya menuju ke tengah hutan belantara. Setelah sampai di hutan lalu beliau berteduh di bawah pohon kayu ketepeng kuning yang rindang dedaunannya. Disana beliau melepaskan penat dan rasa lelahnya. Pada saat itu tanpa disengaja datanglah I Gudug Pasu menghampiri Betari Sri, terdorong oleh kegembiraan hatinya dan asrat yang dalam lalu dia berkata,"Wahai junjunganku Betari Sri syukurlah Betari saya jumpai disini, karena telah sekian lama betari meninggalkan sorga loka, sungguh sangat khawatir saya tidak dapat berjumpa, oh betariku rasanya tidak puas jakalau saya tidak dapat mempersunting betari"
Mendengar kata-kata yang diucapkan I Gudug Pasu demikian, Betara Rambut Sedana cepat menyela, "Hai kau Gudug Pasu kalau demikian kehendakmu aku sebagai kakaknya belum ikhlas menyerahkan adikku begitu saja tanpa pembelaan, hanya jiwaku yang menjadi taruhannya". I Gudug Pasu yang kehendaknya tak dapat dibelokan lagi tahu akan dirinya yang tak ada menyaingi kesaktiannya dengan tak terduga-duga segera menyerang betara Ranbut Sedana. Peperanganpun terjadi sangat dasyatnya, tak ada yang mengalami cedera saat peperangan itu terjadi, tiba-tiba Betara Ranbut sedana mendengar sabda dari angkasa, "Hai Dewa Ranbut Sedana bila dengan jalan ini dewa akan membunuh I Gudug Pasu pasti tidak akan berhasil, sekarang tangkaplah dia dan seret ke tengah lautan dan buang di tengah samudra , hanya dengan cara demikian kamu akan berhasil. Betara Rambut Sedana tidak berpikir panjang, setelah mendengar sabda itu lalu ia lari ke pinggir pantai, disana peperangan terjadi lagi dengan dasyatnya. Tiba-tiba Betara rambut sedana mencengkeram I Gudug Pasu, diseretnya ke tengah samudra lalu dilepaskan sendirian disana. Tahu akan kekalahannya I gudug Pasu yang berada di tengah samudra berkata-kata, "Hai Rambut Sedana apa dengan jalan begini kau sanggup membunuhku?, belum tentu, tetapi ingat cita-citaku belum sampai untuk mengawini Dewi Sri, aku akan terus berjuang sampai cita-citaku benar- benar terpenuhi." Hilangnya suara itu tiba-tiba mengapung di permukaan laut seekor ikan yang merupakan penjelmaan dari I Gudug Pasu, ikan itu bernama Be Bawang Uyah.
Kini setelah I Gudug Pasu tiada Betara Sedana mencari Dewi Sri, betapa girang hatinya Dewi Sri melihat kakaknya datang dengan selamat, setelah Betara Rambut sedana mengasuh sebentar lalu berkata, " Adikku kini marilah kita turun ke Medang Kemulan, untuk itu kakak minta dinda jangan lagi menggunakan badan yang kita pakai sekarang, melainkan dinda harus menggunakan badan ulat kecil, begitu juga kakak akan menggunakan badan ulat kecil, warna badanmu agar berwarna kuning, sedangkan kakak akan berwarna putih, cara inilah sebagai rahasia agar kelak kita bisa saling mengingatkan disaat kita berjumpa. Barang siapa saja manusia di dunia yang menjumpai kita agar kita disambut dengan upacara keagamaan sesuai dengan agama yang mereka anut. Dalam hal ini aku memberikan kelonggaran bagi manusia yang menjumpainya, jika hari ini mereka berjumpa maka dalam kurun waktu selambat-lambatnya tiga hari mmereka harus melaksanakan upacaranya. Nah demikian pesanku dan untuk itu kakak harap dinda berangkat terlebih dahulu, karena aku masih dalam keadaan lesu.
Kini tersebutlah I Gusti Makokawan, Raja yang menguasai Medang Kemulan, pada waktu itu beliau sedang sibuknya mempersiapkan upacara. Upakara yang dipergunakan memerlukan lubang di tanah, raja segera menitah abdinya untuk membuat lubang di tanah sekitar yadnya diselenggarakan. Entah beberapa lama yadnya itu berlalu, maka timbullah serumpun padi di tempat tanah yang cekung  saat melangsungkan upacara dahulu. melihat hal itu alangkah girangnya raja Medang Kemulan, karena hal itu sungguh-sungguh keadaan yang sangat membahagiakan, dewi Sri telah memberikan berkah dan hadir di tempat melaksanakan yadnya. Begitu keadaannya sehingga menjadi perhatian bagi seluruh rakyatnya.
Kembali pada I Bawi Serenggi yang mengambil jalan ke barat laut, dia tidak pernah menjumpai Dewi Sri, maupun Betara Siwa. Melainkan ia hanya berjumpa denga serumpun bambu ampel gading, dengan tidak disadari perbuatanya, maka cabang-cabang bambu ampel gading itu dipatah-patahkannya. Tiba-tiba terdengar suara olehnya,"Ohh Bawi Srenggi, kenapa kau buat aku begini?, bukankah kau akan mencari Dewi Sri?, kau tidak tahu siapa diriku ini sedangkan aku sudah mengetahui dirimu dan kehendakmu, memang Betari  Sri telah turun ke dunia, di timur laut adanya, carilah disitu, kapan nanti kau menjumpai cekung  tanah disanalah Dewi Sri berada.
Begitu terdengar suara darim rumpun bambu itu cepat-cepat I Bawi serenggi meninggalkan tempat tersebut dan turun ke dunia menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh suara tadi. Tapi malang kedatangan I Bawi Serenggi telah diketahui oleh Betari Sri dan akhirnya betaripun mengutuk I Bawi Serenggi untuk menjadi babi galak, terwujudlah kutukan Dewi Sri itu, benar-benar kini I bawi Serenggi telah menjadi babi garang, tanah- tanah disana digaruk-garuknya hingga berserakan ke sana-sini, pohon-pohon ditumbangkannya. Tingkah laku babi garang tersebut membuat sang Raja menjadi murka, maka disuruhlah untuk menangkap babi tersebut, karena kekuatannya sumua prajurit tak mampu menghadapinya. Akhirnya sang rajapun turut membantu menangkap babi garang itu, pertempuran terjadi saling seruduk, saring bergerombol, tak ada yang mampu mengalahkan, tiba-tiba sang raja mendengar sabda  gaib yang samar dari angkasa, konon katanya jikalau mau mengalahkan babi tersebut hendaknya jangan menggunakan senjata tajam, hanya dengan bambu runcing babi garang tersebut bisa kalah. Lalu rajapun menghentikan pertempurannya , segera beliau membuat bambu runcing untuk menghadapi babi tersebut, dengan senjata itulah raja Medang kemulan menyerang babi garang itu bertubi-tubi, dan tubuh babipun terluka parah, darahnya menyembur yang menandakan jiwanya akan segera meninggalkan badannya. Sebelum jiwanya pergi ia sempat mengeluarkan kata-kata, "Hai Gusti, kini cita-citamu untuk membunuhku telah berhasil, namun cita-citaku untuk mempersunting Dewi Sri belum terwujud, selama itu pula aku berjuang". Setelah selesai mengucapikan kata-kata maka lenyaplah jiwa I Bawi Serenggi, darahnya berubah menjadi candang api, napasnya berubah menjadi candang kubal, kukunya berubah menjadi candang getep, ekornya menjadi candang kibul. Demikianlah kisah Kelulutan/ TATTWANING LULUT, candang-candang tersebut adalah hama yang menyerang tanaman padi saat ini.

Umat Hindu dimanapun berada, jika sudah memahami tentang tattwaning lulut bila dalam lingkungan pekarangan muncul lulut maka mereka tidak akan diam berpangku tangan, begitu juga akan membiarkan saja kejadian itu berlalu, akan tetapi mereka segera melakukan upacara bhuta yadnya sekurang-kurangnya byakala prassista, atau yang lebih lagi dengan caru eka sata dll, sesuai dengan kemampuan dan keyakinannya.
Untuk Lulut Kuning (Emas) upakaranya  : suci asoroh, dengan menggunakan daging ayam biing, tebasan, peras, lengkap dengan sesantunnya, penyeneng palinggih, serta canang sari. Melakukan upacara pemendakan terhadap betari sri sehingga dalam melangsungkan kehidupan ini diberikan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan,  setelah selesai diupacarai segeralah kembalikan ke tempat penyimpanan beras. Lulutnya disatukan ditaruh pada bungkak kelapa tanam dibelakang/Teba, Hanyut ke sungai, atau sekalian ke segara juga sangat bagus.
Untuk Lulut Putih (Perak) upakaranya : Suci asoroh, dengan menggunakan daging ayam putih, tebasan lengkap dengan sesantunnya, penyeneng palinggih serta canang sari. Melakukan upacara pemendakan terhadap Betara Rambut Sedana agar dalam menjalani kehidupan ini beliau menganugrahkan keselamatan, kemuliaan, dan kesejahteraan. Setelah selesai upacaranya segeralah kembalikan ke gedong saren. Lulut disatukan ditaruh pada bungkak kelapa lalu ditanam di belakang/teba, hanyut ke sungai, atau jikalau memungkinkan sekalian ke segara bawa untuk menghanyutkan segala kekotoran yang telah terjadi akibat ke munculan lulut tersebut. Olih Jro Mangku Pasek.