Minggu, 19 Februari 2017

UPACARA NEGTEGANG



      "NEGTEGANG BERAS"   
Sejatinya tujuan utama dari kita berupacara adalah suatu langkah untuk mendekatkan diri kepadaNya guna senantiasa kita ada dalam lindunganNya. Untuk tujuan itulah kita kebanyakan (selain penganut faham atheisme) memeluk salah satu agama yang kita yakini sebagai jalan terbaik kita untuk selalu terhubung denganNya. Riilnya agama tertua yang diwahyukanNya ke bumi pada sebagian kecil ajarannya mengenal empat jalan untuk terjadinya perubahan hidup kearah yang lebih baik lahir dan bathin, hal itu lumrah disebut catur marga (catur yoga. Keempatnya merupakan jalan/marga untuk menghubungkan/mendekatkan diri denganNya/ Hyang Widhi : bhakti marga, karma marga,jnana marga, dan raja marga.

Khusus tentang bhakti marga, merupakan suatu usaha menghubungkan diri denganNya beserta manifestasinya dengan cara sujud bakti, menyucikan pikiran, mengagungkan kebesaranNya dan menghindarkan diri dari aneka perbuatan tercela/ menjauhi semua laranganNya. Demi lancarnya pelaksanaan bhakti marga umat Hindu membuat suatu media diantaranya berupa aneka tempat suci ( Kamar Suci,merajan, pura ), serta  pratima, upakara, dan yang lainnya. Tempat sucinya umat Hindu yang populer itu adalah pura (replika sorga), purapun didirikan dengan aneka upakara sakralnya misalnya mecaru, melaspas, dan ngenteg linggih yang acapkali disebut karya agung. Hindu itu agama nan unik bukan ribet, buktinya semua ritual keagamaannya ada tingkatan-tingkatannya dari manista, madya dan utama     yang semuanya mengandung nilai budaya dan filosofi tinggi. 

            Kita ambil contoh, salah satu jenis ritual yang disebut “Negtegang manik galih/negtegang baas”, ritual ini tidak dilaksanakan jika upacara yadnya hanya berupa puja wali biasa/ngodalin biasa . Negtegang manik galih baru dilaksanakan setingkat upacara yadnya  yang tergolong besar  . Negtegang manik galih/baas, kurang lebih merupakan suatu prosesi keagamaan yang menyatakan suatu kesanggupan untuk melaksanakan yadnya yang terkatagori besar dalam artian siap mental juga materi. Selain itu upacara negtegang tersebut bertujuan untuk membersihkan alat-alat upakara yang akan digunakan untuk membentuk bebantenan. Ritual yang satu ini berserana utama beras, beras diupacarai sebagai simbul kesiapan beryadnya dalam artian hingga batas waktu selesainya upacara yadnya dimaksud yakin tidak akan kekurangan sandang pangan, utamanya segala kelengkapan upakara yadnya yang akan dipersembahkan harus mendapat penglukatan/pemarisuda di saat upacara negtegang diselenggarakan. Idealnya saat upacara negtegang tersebut heddaknya membuat satu tempat sakral yang sering disebut dengan “Lumbung Ayu”. Di Lumbung Ayu tersebut ditempatkan beberapa jenis sarana upakara, misalnya beras, beras merah, ketan, injin dan kacang-kacangan. Tak luput juga sarana lainnya seperti minyak, gula, kopi, gula aren, tepung,bahan bumbu-bumbuan, daun, kayu bakar dll untuk dibersihkan/diparisuda agar nantinya bisa digunakan sebagai sarana upakara. Sarana yang digunakan saat membuat suatu upakara hendaknya suci, maka dari itu upacara negtegang dan nyangling itu sangatlah perlu dilaksanakan. Upacara negtegang tersebut dilaksanakan setelah pelaksanaan matur piuning/pemiut, lalu nanceb tetaring dan pemelaspas tetaring. Setelah alam/bhuana agung bersih, maka dimulai untuk membawa alat-alat dan sarana upakara ke pura, saat itulah mulai dipersiapkan upacara negtegang.
           
            Dalam rangkaian tersebut dilaksanakan pula upacara pengraksa karya, ngadegang tapini, maguru dadi, mapengalang dan ngunggahang sunari. Pengraksa Karya/pangemit karya bertujuan untuk memohon bantuan kepada para bhuta kala dan panca korsika agar tidak mengganggu jalannya upacara. Sri Raksa (bhuta Ulu Guwak), Guru Raksa (bhuta Ulu Asu), Rudra Raksa (bhuta Ulu Singa) , Kala Raksa (bhuta Ulu Gajah) dan Siwa Raksa Bhua (Ulu Lembu). Mereka berada disetiap sudut pekarangan Pura/Mrajan. Mereka akan menolak segala yang berbau negative yang akan mengganggu jalannya upacara, dari memedi, wong samar yang akan menyebabkan koos/boros serta para tamu-tamu yang berdatangan akan merasa nyaman dibuatnya. Setelah mepengemit karya lalu upacara mepengalang sasih di depan candi bentar (jaba Sisi). Tujuan dari pada mepengalang adalah untuk memohon kesucian pikiran dan keterangan hati dalam melaksanakan upacara. Mepengalang sasih ini juga bermakna “galang” layaknya disaat malam yang gelap lalu disinari dengan cahaya rembulan purnama. Apapun yang kita cari tidak akan menemui hambatan karna telah tercerahkan, galang juga bermakna tidak merasakan cuntaka/kesebelan,karna dengan nunas tirta pengalang tersebut maka pikiran kita menjadi bersih, suci dan siap untuk ngayah membuat upakara yang suci. Lalu ada upacara ngadegang Taksu tapeni/Betari Uma Dewi, beliau adalah dewanya tukang banten, yang mana kalau disimbulkan dalam upakara beliau adalah dewi dari betara siwa yang selalu mendampingi beliau untuk mengajarkan umat Hindu membuat/ngereka upakara/banten. Dewa Siwa sendiri bergelar Sang Hyang Rare Angon, beliau akan ngangon atau mengajarkan umatNya untuk selalu melaksanakan ajaran agama berdasarkan susastra suci(Weda). Itulah tujuannya melaksanakan upacara meguru dadi, agar apapun yang dikerjakan mendapatkan bimbingan dan arahan supaya tidak keliru dalam membuat alat dan sarana upacara. Kemudian ada upacara ngunggahang Sunari, acara ini bertujuan untuk menyampaikan informasi tentang pelaksanaan upacara tersebut kesegala arah, dari sapta petala, sapta dewata sampai ke sapta sunia. Itulah sebabnya lubang yang terdapat dalam sunari itu berjumlah tujuh buah/sapta Brahman. Sunari/Sundari juga berarti indah, harmonis. Alunan suaranya yang indah itu akan mengundang perasaan yang damai, nyaman, tentram dalam melaksanakan ritual keagamaan. Dalam batang sunari tersebut terdapat pula hiasan Kera sebagai lambang Angin (Marut/maruti/Hanoman). Disisi lain Sunari juga bermakna “Sunar’/Sinar” dan I bermakna menuju, jadi dengan sunari kita dihrapkan menuju pada kecerahan sinar. Anak kera juga juga bernama “Ape”, jadi karena “sing nawang ape”maka perlulah sinar pencerah agar dapat melaksanakan upacara dengan baik dan benar.

Lumrahnya setelah upacara negtegang manik galih keesokan harinya/lusanya dilanjutkan dengan upacara “nyangling” dan ngingsah beras catur warna. (mencuci beras serana upakara misalnya bahan tepung untuk nyamuh). Upacara nyangling dan ngingsah beras dapat juga diartikan sebagai simbol dari kesiapan umat untuk melaksanakan upacara yang terkatagori karya agung. Nyangling sama artinya dengan nyelir yang pada intinya menunjukkan kesiapan seluruh umat Hindu untuk melaksanakan semua rangkaian upacara yang telah dijadwalkan hingga ke akhir acara yadnya. Nyangling juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang bersih, bening, nyalang/bersih bersinar, setelah upacara ngingsah dilanjutkan dengan ngereka beras catur warna untuk membuat lingga dari betara sri dan betara sedana ( sang Hyang Manik Galih ), dibutuhkan 2 buah bokor, dialasi dengan kain putih untuk reka betara sedana (oleh laki-laki) dan kain kuning sebagai reka betari sri (oleh perempuan) dengan masing masing 3 buah kwangen, beras ditempatkan paling atas sebagai kepala, di bahu dan lengan ditempatkan ketan, lalu di perut memakai injin dan di kaki beras merah. Lingga tersebut dilengkapi dengan kwangen dan uang bolongnya. Air ingsahan beras tersebut disiramkan pada kaki-kaki pelinggih di pura untuk mohon kesejahteraan. Setelah upacara tersebut dilaksanakan maka untuk setiap harinya dilaksanakan upacara penyahian, dengan mempersembahkan banten sewentena/soda dan segehan kemasing-masing bucu/pengraksa karya dan dihadapan taksu/tapeni. “Nahanta karuhunakena krama tapeni, duk angengkab karya bebanten ring penyamuhannya akarya sesanganan adegakena widhining tukang rumuhun, Betari Uma maka widhining tukang, maka sajna sang hyang Tapeni ana pariwaranya watek apsari, maaran dewa Pradnyan, Dewi Wastu, Dewi Kedep, ika maka guruning tukang atanding banten, ika astiti akna rumuhun dening sopakaraning daksina panuntun mwang pras, canang wangi-wangi mwang soda, ajuman katipat kelanan, canang raka rayunan muncuk kuskusan, iwak sarwa suci, sari arta sakotama
Mwang ana pariwaranya watek bhuta, ngaran ni Buta Kencak, Ni Bhuta Swadnya, Ni Bhuta Pancad, ika kang juru karya gupuh, wehana labaan, sega telung pangkonan, iwak sakewenang. Wus mangkana angawiti sira akarya, den ambek suci juga ayuwa sabda gangsul, wak prakasa, mwang cemer, tinemah kita de betari, balik sabda rahayu juga ucap menk maka ucapanta, apan risedengta akarya banten ya ika kalanta angajum rupa warnaning mwang pawanganing sarwa Dewata-Dewati, Bhatara mwang Bhatari, ika nimitaning whidi widana aranyaikang sarwa bebanten, apanya dadi lingga, dadi saksi, dadi cahya, dadi cihnaning wang astiti bhakti ring widhi, panunggalanya ring raga juga ya staning widhi anuksma, ring bumi unggwaning astiti.
Seimbangkan antara upakara, ritual dan tattwanya, karena itu merupakan yadnya, kalau menyimpang dari tattwanya disebut “buta”, kalau tidak memakai tatanan/susila yang benar disebut “tuli”, kalau tidak menggunakan upakara disebut “lumpuh”, kerjanya sia-sia, karena merupakan manipestasi dari tubuh kita. Maka dari itu marilah kita bersama belajar tentang hakekat upakara dan upacara, agar senantiasa kita memperoleh kedamaian dan kesejahteraan, karena dengan mengikuti tuntunan sastra kita berupacara akan memperoleh hasil yang maksimal. Salam Mk Pasek.

Kamis, 16 Februari 2017

AJI PUSPA TAN ALUM


1a. Lontar Puspatanalum
1b. Om Awignamastu, iti pitegesing warah rwa bhineda tanpa sastra, nga, sane ring sarira, ne magenah ring ati putih, ne meharan ati putih, nga, untengin tingale, irika genah sang hyang rwa bhineda tanpa sastra, luirnya sarining getihe ne hening, ya rumawak sang hyang atma, nga, atma rumawak I meme, dane I meme rumawak sang hyang agni, sarining sang hyang agni rumaga yeh, yeh rumaga I bapa, ya nemalinggih ring netra karo, melawat marupa kaya wong rare, dane meharan I rare cili, ika ne katon melawat ke jaba,

2a. kasengguh ika lawat, nanging dudu ika lawat, yaika ngaranan atma jati, ika rumaga rwa bhineda tanpa sastra, ne malinggih ring netra tengen rumaga I bapa, dane I bapa wawak yeh, dane I meme malingga ring netra kiwa, dane I meme mawak sang hyang agni, nanging katon mapinda kaya wong rare cili, maka urip dane I meme mwang I bapa, ana amertha sanjiwani sane megenah ring jroning unteke, sabetening polone, irika sira megantung tanpa cantel, yaika ngaranan tunjung putih,

2b. asari mas, ya maka urip watek dewata kabeh, mwang watek rsi, lawan pitara mwah kala, ya sang hyang amertha sanjiwani uriping jagat kabeh, ne ring raga sarira, maka miwah sane ring bhuana agung, pingit akna ayua wera, ri teges iki bwat kena soddha antuk sang hyang ane lelata, dalanya swarga anemu kawah, ika kawah amuput swarga, mwah sira yan kalaning aturu sirep, kadyang apa tingkahnya sang hyang amertha sanjiwani, ida nunggal meraga betari, tengahing cakra sunya, maka ngaran sang hyang tu-

3a. nggal, megantung tanpa cantelan ring tengahing unteke, ika ngaran bumi pati mas, yan wus nunggal sang hyang amertha marupa sang hyang tunggal, raris ida turun ka pukuhing jiwanta,  nga, paledledan, irika menglanglang, manilikin sang hyang atma, rikala aturu, apan ida sang hyang tunggal tan ketaman turu, setata menget, I bapa masurupan lawan I meme, rikalanta aturu, matunggal pwa sira sakeng netra karo, raris masurupan manunggal ring jeroning lelata, kadyang apa tingkahnya, I meme manunggal lawan-

3b. I bapa, I bapa masurupan lawan I meme, kadi kris manjing ring werangkanya, wus mangkana nuli sira matinggal, sakeng jroning lelata, ngraris kapaswaban unteke, wus sakeng irika raris tedun, amarga ring uwat jajah gihinge, amarga ring gigitok, ngraris dane kalobang papusuhane, irika ana ati alit, ginaya kaya jawa sanunggal, sang sadhu maya ngaranya, irika pwa sira sang hyang atma ring pukuhing ati makolem, sumirep ngawindu ngaran, getih I bapa kasambut olih nawa sangane, sami bayune ring raga mapupul, ngawindu ring papusuh unggwanya, ye-

4a. ka matangnyan turu, wetu wruh angipi, sang hyang tunggal ajur sadidik, ring pukuhing jiwa, kena kasiraman windu ika, kang akulan ring papusuh, blah tang windu ika dadi rwa, yeka gnah sira ngipi, angipi metu lawan wyarstra, apa donya mangkana, reh sira I bapa matemu lawan I meme, ana mangkana awakta, dane aturu, dadia wruh ring warah, apan sira bapa ibunta rumaga manusa sakti, sane mawak atma, yan ngipi rikalaning atangi ya bisa mojaraken sake ipyanya, ika ngaran awaktama ngawakin, yaqn mangipi katemu pitraning wong kari maurip, i-

4b. ka, matemu ring pangipyan apa karaning mangkana, apan sarining npangan kinumta iki, yeka kena kasiram dening sang hyang amertha sanjiwani, ika ne kahunda mapinda atma, yan sira ngipi katemu lawan dewa, ika sang hyang ntunggal, kena katinggalan de sang hyang atma, mangkana pidartanya yan sira aturu, ana pwa mangugah gelis ta sira metangi, sang hyang tunggal sang aneng pukuhin jiwa maletas mantuk maring luhur, malinggih ring pasyakan tinggale, mwah marupa dane I meme, I bapa, jaya wong rare cili, I bapa mungguh ring netra tengen, mawaking idep, kawisaya nira aninggalin sa-

5a. warna ala lawan ayu, I meme mungguh ring netra kiwa, pawaking bayu, pasiweran danene ring karna, donya ngapas, kang tanpa awak, pawaking pangrenga, andenger ala lawan ayu, mwah yan sira arep mabresih, to ne I meme lawan I bapa, to ne bersihin, sane mungguh ring pasyakaning netranta, yatika bersihin, I meme, I bapa tunggal rupanya, kadyang rare cili, malingga ring netra kiwa, tengen, margane abersih, netranta kiwa, tengen ika temuakena, arad akna bapa ibunta, ke jroning selaning lelata, ring kana sira nunggal,

5b. kadi panunggalaning pati, kadyang apa tingkah nira, I meme sira nunggal sumurup ring I bapa, I bapa mersihin sira I meme, yan sira wus nunggal kadi wrangka manjinging duwung, nga, yan wus nunggal ring jroning lelata, raris margiang I bapa ke pasyakan unteke, sakeng irika raris ke bolong jajah gihinge, trus I bapa ke lobanging papusuh agung, yan wus ring kana, tasira malih margiang menek, ngemargining ring witning papusuh, ne atep ke tulang giinge, ne anerus ke bolong tungtungin lidahe, irika sang hyang atma malih mulih dadi da-

6a. dwa, irika dane belas, belas dane I meme lawan I bapa, irika wawu I bapa mersihin I meme, yan masisig I meme magenah ring untu, maharan I rare guna,  I bapa maharan sira mpu guna, magenah ring linjongin tangan tengen, yan keramas sang rare guna, sira mungguh ring tungtungin rambut, sira mpu siwa guna, mungguh ring lepa-lepaning tangan, meraga yeh, mwah dane manyuginin, yen madyus dane I rare guna I bapa meraga toya, tur dane manoyanin, yan sampun wus matirtha ring jaba-

6b. malih nunggal sang rare gunalawan sira sang mpu siwa guna, kadi iki mantuk amarga, katungtung lidah raris kapukuhing papusuh, irika mawak manusa sakti, meraga gni rahasya, malih mantuk I manusa sakti, ke jroning jajah gihinge, pada matirtha cemana ring ida sang hyang amertha sanjiwani, otot jajah giinge te ne tuuta ngamenekang, trus I bapa mantuk ke tengahing untekta, irika dane matirtha cemana, ring betara tunggal, ida meraga tirtha sanjawani, ida meraga brahmana hening, sang hyang atma wuse manusa-

7a. saktine kaicen tirtha cemana, malih katuduhang manusa saktine malingga ring netra karo ring pasyakanya, I meme malingga ring pasyakaning nnetra kiwa, mawak bayu, bayu mawak api, I bapa mungguh ring netra tengen, mawak idep, idep mawak myeh, to ne malinggih ring nnetra karo, kiwa tengen ika katon sakeng jaba, mapinda kaya wong rare, ya ingaranan jatma jati, ya dadi manusa sakti, ya ne mersihin sahi di sajroning urip, yan tekaning pati tunggal akna juga I bapa lawan I meme, kadya nga-

7b. pa, tingkahe anunggalang, I meme nyusup ring I bapa, panunggalanya ring selaging lelata, ring jro, yan wus nunggal, ring kana antukang sang hyang atma, ke telengin unteke, wus teked irika, sang hyang atma celepang ke tengah idane sang hyang tunggal, yan wus mangkana waluya sang hyang atma meraga sang hyang tunggal, swarga sang hyang atma tan ketaman papa, yan wus mangkana tinggal akna sang hyang tunggal, ring raga sarira, marga akna ring usehan, kepanggih swarga luwih, swarganing nwatek dewata, kabeh, tanpawalia sira anjatmamwah pada mor ring betara ring cakra sunya, apa-

8a. n sang hyang tunggal meraga mertha sanjiwani,

ARTI DAN FUNGSI UPAKARA


ARTI DAN FUNSI SARANA UPAKARA
Berbhakti kehadapan Ida Sang Hyang WIdhi Wasa adalah salah satu bentuk pengamalan ajaran Agama Hindu, selain jalan bhakti masih ada jalan lain yang ditempuh oleh umat Hindu yang termasuk catur marga diantaranya Karma Marga, jnyana Marga dan Raja yoga Marga. Keempat jalan menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa tersebut memang tidak dapat dilepaskan satu sama lainnya. Ketika Umat Hindu melaksanakan Bhakti Marga hendaknya harus dilengkapi pula oleh pemahaman tentang hakekat bhakti tersebut dengan Ilmu pengetahuan (Jnyana Marga), untuk mewujudkan bhakti tersebut juga tidak akan terlepas dengan kerja (Karma Marga), ketika ketiga marga tersebut telah sempurna dilaksanakan niscaya akan tercapai yang namanya Raja Yoga Marga.
Berbhakti kepada Tuhan dalam ajaran agama Hindu ada dua tahap/cara, pertama bagi mereka yang memiliki ilmu pengetahuan terbatas tentang weda maka mereka bisa menempuh jalan “Apara Bhakti” yakni berbhakti dengan menggunakan berbagai macam sarana atau simbul-simbul. Sedangkan “Para Bhakti” adalah mereka yang berbhakti kepada Tuhan dengan jalan bermeditasi, bertapa brata, yoga dan semadi. Mereka tidak lagi terikat oleh simbul-simbul dan sarana upakara untuk menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam Bhakti marga banyak sekali sarana upakara dan simbul simbul yang menggambarkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, seperti misalnya Bunga, Daun, Buah, dan Air seperti yang tersurat dalam pustaka Bhagavadgita IX, 26
“Pattram puspam phalam toyam, Yo me bhaktya prayaccati
Tad aham bhaktyupahrtam, Asnami prayatatmanah”
Artinya : Siapa yang dengan kesujudan hati mempersembahkan kepadaku daun, bunga, buah-buahan dan air, persembahan yang didasari oleh cinta dan keluar dari lubuk hati yang suci aku terima.

 ARTI DAN FUNGSI BUNGA
Ada dua fungsi bunga yang penting dalam upakara, pertama berfungsi sebagai symbol Tuhan (Siwa) dan yang kedua berfungsi sebagai persembahan kehadapan Tuhan. Sebagai simbul Ida Sang Hyang Widhi bunga diletakan menyembul pada puncak cakupan tangan disaat menyembah Ida Sang Hyang Widhi, ketika menyembah ujung jari-jari tangan datar dengan ubun-ubun (Siwa dwara) dengan ibu jari menyentuh kening. Siwa dwara artinya tempat Siwa, ketika kita sadari bahwa ubun-ubun adalah tempat yang paling suci diantara tubuh manusia, maka disanalah tuhan/Atman bertahta. Ketika kita sembahyang/menyembah Tuhan dalam “Saguna Brahman”dan “Guna Brahman”maka perlu disimbulkan dalam kenyataan alam semesta ini, dengan jalam memberikan warna yang tepat terhadap aspek dan kerja beliau. Misalkan dalam persembahan kehadapan Hyang Widhi sebagai penguasa surya/Siwa Aditya di Padmasana (Saguna Brahman), maka bunga yang mesti dipakai adalah yang mempunyai warna “Putih”. Ada dua alasan untuk memberikan warna tersebut, yang pertama Siwa Aditya adalah unsure maskulin/Purusa, ketika bicara purusa/laki-laki adalah identik dengan kama “Petak”,maka dari itu untuk melambangkan unsure purusa tersebut sangatlah tepat jika menggunakan bunga warna putih. Disisi lain dalam puja “Surya Astawa” juga terdapa petikan “Sweta pangkaja madyastha” yang artinya Tuhan yang duduk di tengah-tengah teratai putih, maka sangatlah tepat jika kita menggunakan bunga berwarna putih untuk menyembah kehadapan Hyang Siwa Aditya dalam wujud purusa. Sebagai predana Tuhan diwujudkan dalam bentuk “Ibu Pertiwi”,beliau menguasai sapta patala/Dasar. Ibu yang memiliki kama “Bang”/merah diwujudkan dalam persembahyangan dengan bunga yang berwarna merah, itu didasarkan atas pengertian sebagai pencipta/utpeti adalah “brahma”,yang mana dari Ibulah lahir semua yang ada di alam semesta ini. Ibu Pertiwi melahirkan tumbuh-tumbuhan, Ibu dari hewan dan manusia melahirkan anak-anaknya. Jadi Ibu adalah utpeti/Brahma yang dilambangkan dengan warna merah (Brahma betara wisnawi), stana beliaupun di Sapta Patala/dasar akan didominasi oleh warna merah. Bunga hitam/pelung banyak digunakan untuk memuja kebesaran Hyang Widhi dalam manipestasi beliau sebagai dewa Wisnu (pemelihara), hitam identik dengan “Udaka”/air yang berarti ‘Amertha”/kehidupan. Dewa yang berfungsi untuk memelihara kehidupan ini adalah dewa Wisnu, persembahyangan ke segara, sungai, mata air dan lainnya yang terkait dengan air selalu menggunakan bunga berwarna hitam. Kalau di pura yang memiliki pelinggih “lebuh”akan menggunakan warna hitam sebagai ornamennya, ini didasari dengan penjelasan dalam lontar Sundarigama yang menyatakan bahwa lebuh sebagai lingga Siwa Baruna penguasa lautan/air/amertha/kehidupan. Jadi idealnya palinggih lebuh tersebut dihiasi dengan busana hitam, sebagai penghormatan terhadap dewa Wisnu yang membawa ‘Amertha Kamandalu”, disaat melaksanakan “pepranian” pelinggih lebuh juga sebagai tempat pelaksanaanya, ini dimaksud karena kata pepranian tersebut berkata dasar “Prani” yang artinya prana/kehidupan (sarwa prani hitangkarah), jadi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih sempurna maka dilaksanakanlah pepranian dengan memohon tirtha amertha kamandalu di tengah samudra/lebuh.
Untuk menyembah Tuhan dalam Guna Brahman/Ista Dewata maka sanagtlah bijak jika menggunakan Kwangen. Kwangen berasal dari bahasa jawa kuno dari kata “wangi” atau harum. Kata wangi mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” menjadi kawangian lalu disandikan menjadi kwangen. Dalam Lontar Sri Jaya Kasunu kwangen disebutkan sebagai lambang “Omkara”, kojongnya sebagai ardha candra, uang bolong sebagai windu dan reringgitan sebagai nada, ketika ketiga unsure tersebut disatukan maka akan membentuk OM. Bunga warna-warni ditambahkan sebagai pengharum/ mengharumkan Ida Sang Hyang Widhi. Kwangen dipersembahkan menghadap ke Siwa Dwara artinya begitu energy Brahman/Tuhan dapat kita tarik akan terjadi kontak antara Atman dengan Brahman (Atman Brahmanakyam), seolah-olah komunikasi terjalin antara sang jiwa dengan sang pencipta. Demikianlah warna-warni bunga untuk melambangkan kebesaran sang pencipta/ Hyang Widhi, amatlah penting untuk kita ketahui agar tidak salah kaprah, ketika kita melambangkan/ menyimbulkan Hyang Widhi dengan berbagai aspek kerja/Dharma beliau maka sangatlah bijak jika kita dapat memahami tattwa yang tersirat dalam lambang/simbul tersebut.

BUNGA SEBAGAI PERSEMBAHAN
Dalam Bhakti Marga persembahan adalah hal yang mutlak diperlukan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan, Umat Hindu membuat persembahan yang paling sederhana adalah “canang”. Kata canang berasal dari bahasa jawa kuno yang berarti sirih/base. Pada zaman dahulu tradisi makan sirih sangatlah kental dilakukan untuk menghormati tamu-tamu penting, bahkan dalam kekawin nitisastra disuratkan “Masepi tikang waktra tan amucang wang” Artinya : sepi rasanya mulut itu tiada makan sirih. Jadi sirih/base sangatlah penting kedudukannya pada zaman itu, ketika Agama Hindu Bali mulai mengenal banten maka salah satu wujudnya dinamakan canang. Canang tersebut terbuat dari ceper yang dilengkapi dengan “porosan” terbuat dari sirih/base, lalu bunga warna –warni dan kembang rampe, jika tanpa porosan maka susunan tersebut belumlah bernama canang. Untuk menghasilkan canang yang mempunyai nilai tinggi maka penyusunan bunganya haruslah tepat, yang mana bunga putih ditaruh pada pojok kanan atas akan melambangka Dewa Iswara/arah timur, kemudian bunga berwarna merah ditaruh pada pojok kanan bawah sebagai lambing Dewa Brahma/arah selatan, lalu bunga kuning pada pojok kiri bawah sebagai lambing Dewa Mahadewa/barat dan bunga hitam pada pojok kiri atas sebagai lambing Dewa Wisnu/utara, di tengah-tengah ditaruh kembang rampe sebagai lambing Dewa Siwa.